detikBali

47 Hektare Lahan Pertanian di Jembrana Puso gegara Kemarau

Terpopuler Koleksi Pilihan

47 Hektare Lahan Pertanian di Jembrana Puso gegara Kemarau


I Putu Adi Budiastrawan - detikBali

Kondisi padi gagal panen akibat kekeringan di Jembrana, Bali, Kamis (3/9/2026).
Kondisi padi gagal panen akibat kekeringan di Jembrana, Bali, Kamis (3/9/2026). (Foto: I Putu Adi Budiastrawan/detikBali)
Jembrana -

Kemarau 2026 mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Jembrana, Bali. Sebanyak 47,1 hektare lahan pertanian dipastikan puso akibat kekeringan dari total 138,3 hektare lahan yang terdampak.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana I Putu Eka Arta mengatakan lahan terdampak tersebar di lima kecamatan, yakni Negara, Jembrana, Melaya, Mendoyo, dan Pekutatan.

"Dari total 138,3 hektare lahan yang terdampak kekeringan, astungkara seluas 11 hektare di antaranya berhasil pulih. Namun sayangnya, terdapat 47,1 hektare lahan tanaman yang tidak bisa diselamatkan dan harus dinyatakan puso," ungkap Eka Arta, saat dikonfirmasi detikBali, Kamis (3/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kerusakan lahan bervariasi dari kategori ringan hingga berat. Tanaman padi menjadi komoditas yang paling parah terdampak di seluruh kecamatan. Sementara tanaman jagung terdampak di Kecamatan Pekutatan, yakni 4 hektare di Subak Air Satang, Desa Medewi, dan 1 hektare di Subak Pangkung Serangsang, Desa Gumbrih.

ADVERTISEMENT

Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana bersama BPBD, PLN, Balai Wilayah Sungai (BWS), Bank Indonesia, Korem 163/Wirasatya, dan Kejaksaan Negeri Jembrana telah melakukan penanganan pada lahan seluas 125,85 hektare. Upaya dilakukan dengan memaksimalkan dan menambah sumur bor.

"Solusi utama yang diterapkan di lapangan untuk menangani kekeringan ini adalah dengan memberlakukan sistem pergiliran air secara ketat, serta memaksimalkan pemanfaatan fasilitas sumur bor yang telah tersedia di masing-masing subak," jelas Eka Arta.

Namun, kapasitas sumur bor belum mampu memenuhi kebutuhan air seluruh lahan terdampak. Kondisi tersebut membuat sejumlah tanaman padi tidak tumbuh maksimal hingga akhirnya puso.

"Permasalahan utama di lapangan adalah sumur bor yang ada tidak mampu mengairi keseluruhan luas wilayah yang terdampak. Akibat keterbatasan debit air pada sistem pergiliran tersebut, beberapa lahan tanaman padi tidak mampu tumbuh secara maksimal dan pada akhirnya menjadi puso," pungkas Eka Arta.



(dpw/dpw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads