Indonesia kehilangan sekitar 40% hutan mangrove selama tiga dekade. Hal tersebut diungkapkan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, saat acara Hari Mangrove Sedunia di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Denpasar, Minggu (26/7/2026).
"Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan sekitar 40% mangrove dengan laju kerusakan sekitar 52 ribu hektare per tahun dan sekitar 19,2% mangrove berada dalam kondisi kritis," kata Sakti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sakti menyampaikan luas mangrove mengalami penurunan sejak 1980-an dari 4,2 juta hektare menjadi 3,3 juta hektare. Padahal, mangrove berperan sangat penting sebagai pelindung pesisir, habitat bagi berbagai biota laut, penopang produktivitas perikanan dan mata pencaharian masyarakat, serta penyimpan karbon.
Sakti mengungkapkan degradasi dan abrasi menjadi penyebab utama Indonesia kehilangan 40% hutan mangrove selama tiga dekade terakhir. Hampir semua kawasan mangrove di seluruh Indonesia mengalami degradasi karena diterjang ombak.
Selain degradasi, pertumbuhan manusia yang sangat eksponensial juga mengakibatkan hutan mangrove mulai berkurang. Sakit mengungkapkan upaya menanggulangi pengurangan mangrove itu adalah dengan restorasi. "Satu-satunya cara harus restorasi," jelasnya.
Indonesia, tutur Sakti, juga berperan strategis sebagai salah satu produsen perikanan utama dengan potensi sumber daya kelautannya yang besar. Sekitar 23% ekosistem mangrove dunia menopang produktivitas perikanan dan ketahanan pangan.
"Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman semata, tetapi harus dilakukan berbasis kesesuaian ekologis agar fungsi ekosistem benar-benar pulih," jelas Sakti.
Sakti berujar, Kementerian Kelautan dan Perikanan berkomitmen untuk terus bersinergi dengan seluruh pemangku kebijakan dalam menjaga, memulihkan, dan mengelola ekosistem mangrove Indonesia.
"Keberhasilan pemulihan mangrove bergantung pada kolaborasi seluruh pemangku kepentingan melalui kebijakan terpadu, pemanfaatan sains, pemberdayaan masyarakat serta penguatan pendanaan, pengawasan, dan edukasi publik," tutur Sakti.
15 Ribu Bibit Mangrove Ditanam
Foto: Senior Manager UBP Bali PT PLN Indonesia Power, I Made Harta Yasa, saat diwawancarai di lokasi penanaman bibit mangrove, Minggu (26/7/2026). (Ahmad Firizqi Irwan/detikBali) |
Sebanyak 15 ribu bibit pohon bakau kurap (Rhizophora mucronata) ditanam di Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Tahura Ngurah Rai, Denpasar. Penanaman dilakukan oleh anak perusahaan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), yakni PT PLN Indonesia Power.
Senior Manager Unit Bisnis Pembangkit (UBP) Bali PT PLN Indonesia Power, I Made Harta Yasa, mengatakan penanaman bibit ini dilakukan untuk memperkuat pelestarian ekosistem mangrove, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi masyarakat di pesisir kawasan Tahura Ngurah Rai.
"Kami berkomitmen dalam mendukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Tadi kami tanam bibit di Batu Lumbung dengan luas sekitar 1.373,5 hektare," jelas Harta Yasa saat ditemui di lokasi.
"Kami harap, di Hari Mangrove Sedunia ini. Bibit yang kami tanam bisa memberikan manfaat, terutama kawasan Batu Lumbang bisa menjadi salah satu pusat pembelajaran konservasi mangrove berbasis masyarakat di Bali," sambung Harta Yasa.
(iws/iws)
