Pria Singapura berinisial MZ (26) ditangkap polisi setelah diduga membunuh kekasihnya, AS (26), di rumah kontrakan mereka di Pedungan, Denpasar, Bali. MZ diduga menyembunyikan jenazah kekasihnya di dalam kamar kontrakan selama lima hari.
Tak hanya itu, tersangka bahkan sempat mengajak pacar barunya ke kontrakan saat jenazah korban masih berada di dalam kamar tersebut. Polisi menyebut MZ juga menutupi jasad AS dengan karpet dan tumpukan boneka. Sontak, perilaku pria Singapura itu mendapat sorotan warganet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Psikolog klinis, Ni Luh Putu Diah Putri Rahayu, menjelaskan perilaku tak lazim MZ tersebut. Ia menyebut seseorang yang baru melakukan tindakan kekerasan ekstrem dapat mengalami berbagai kondisi, seperti syok, penyangkalan (denial), hingga upaya menghindari kenyataan atas apa yang telah dilakukan.
"Dalam beberapa kasus, kemampuan seseorang untuk tetap menjalankan aktivitas sehari-hari setelah melakukan kekerasan bisa menunjukkan adanya hambatan dalam empati. Namun hal tersebut tidak otomatis berarti seseorang memiliki gangguan jiwa tertentu," tutur Diah saat dihubungi detikBali, Sabtu (18/7/2026).
Diah lantas menjelaskan sejumlah sudut pandang psikologi terkait tindakan MZ yang sempat mengajak pacar barunya ke kontrakan saat jenazah korban masih berada di dalam kamar itu. Menurutnya, hal itu dilakukan MZ sebagai upaya untuk memperlihatkan bahwa situasi masih berjalan normal.
"Ada beberapa kemungkinan penjelasan dari sudut pandang psikologi, misalnya adanya upaya untuk mempertahankan kesan bahwa situasi masih normal dan mengalihkan perhatian. Namun, kita perlu berhati-hati agar tidak langsung memberi label tertentu kepada pelaku," imbuhnya.
Meski begitu, Diah berujar, dibutuhkan asesmen menyeluruh untuk memastikan apakah perilaku tersebut dipengaruhi oleh karakter kepribadian tertentu atau faktor lainnya. Diketahui, hubungan antara pelaku dan korban dalam kasus ini merupakan sepasang kekasih.
WN Singapura inisial MZ ditangkap Polresta Denpasar lantaran diduga menganiaya kekasihnya inisial AS (26) di kos Kelurahan Pedungan, Denpasar. (Tangkapan layar video Instagram @polrestadenpasar) |
Hubungan Toksik hingga Kekerasan
Diah kemudian menjelaskan dinamika hubungan toksik atau obsesif yang dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kekerasan. Meski demikian, hal tersebut tidak dapat menjadi satu-satunya penjelasan atas tindakan kekerasan ekstrem.
Ia membandingkan perbedaan hubungan yang dibangun dengan rasa saling menghargai dengan hubungan yang tidak sehat. Hubungan yang sehat, dia berujar, dibangun atas dasar rasa saling menghargai, komunikasi yang terbuka, dan kemampuan mengelola konflik.
"Sebaliknya, dalam hubungan yang toksik sering kali muncul pola kontrol yang berlebihan, rasa memiliki yang ekstrem, kecemburuan yang tidak sehat, manipulasi, hingga ancaman," jelas Diah.
Dalam banyak kasus, Diah melanjutkan, kekerasan berkembang secara bertahap. Jika seseorang memiliki kesulitan mengelola emosi, maka ketika muncul konflik atau ancaman putus hubungan, risiko terjadinya kekerasan bisa meningkat.
"Kasus MZ ini merupakan bentuk kekerasan yang sangat ekstrem dan biasanya dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, bukan hanya karena hubungan yang tidak sehat saja," imbuhnya.
Diah mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sejumlah tanda dalam hubungan interpersonal atau asmara yang dapat mengarah pada perilaku manipulatif maupun kekerasan. Misalkan ketika pasangan berusaha mengontrol hampir seluruh aspek kehidupan atau menunjukkan kecemburuan berlebihan. Bisa pula menyalahkan pasangan atas berbagai masalah, menggunakan ancaman, melanggar privasi, hingga melakukan kekerasan secara berulang.
"Masyarakat juga perlu memahami bahwa kekerasan tidak selalu dimulai dari pukulan. Kekerasan psikologis, seperti penghinaan, ancaman, merendahkan harga diri, atau mengisolasi pasangan dari lingkungan sosial, sering kali menjadi tahap awal sebelum kekerasan fisik terjadi," tutur Diah.
Menurut Diah, seseorang perlu memprioritaskan keselamatan jika terjebak dalam hubungan abusif atau merasa keselamatan jiwanya terancam. Ia menuturkan banyak korban bertahan dalam hubungan yang abusif karena berharap pasangannya akan berubah, merasa bersalah, takut, atau bergantung secara ekonomi maupun emosional.
Diah menyarankan orang yang menghadapi situasi seperti itu untuk mencari dukungan dengan menceritakan kondisi yang dialami kepada orang yang dipercaya. Sebaiknya, kondisi tersebut tidak tidak dipendam atau dihadapi seorang diri.
"Pendampingan psikologis juga penting untuk membantu korban memahami bahwa kekerasan bukanlah bentuk kasih sayang, memulihkan kondisi emosional, serta membangun kembali rasa percaya dirinya," pungkasnya.
(iws/iws)
