Warga mengeluhkan proyek perbaikan Jalan Sampalan-Toyapakeh, Nusa Penida, Klungkung, Bali. Musababnya, proyek peningkatan jalan di kawasan wisata itu menimbulkan debu tebal.
Protes itu disampaikan melalui media sosial oleh akun Facebook I Made Lumiyarta. Dalam unggahannya, Lumiyarta meminta pemborong proyek agar melakukan penyiraman jalan secara rutin pagi dan sore hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tolong pemborong pelebaran jalan Toyapakeh Sampalan, lakukanlah penyiraman jalan pagi sore dan merata. Kami pedagang pinggir jalan hampir putus asa tidak berdaya diserang debu tebal," tulis Lumiyarta dalam unggahan yang dilihat detikBali, Kamis (16/7/2026).
Selain pedagang, para pengendara motor juga terdampak debu yang ditimbulkan proyek perbaikan jalan itu. Bahkan, mereka mengaku harus menghirup debu saat melintasi jalan tersebut, terutama pada siang sampai sore hari.
Kabid Bina Marga Dinas PUPRPKP Klungkung, I Komang Maryana, buka suara terkait keluhan warga Nusa Penida tersebut. Maryana menjelaskan pihak pemborong sebenarnya sudah melakukan penyiraman secara rutin dua kali sehari. Namun, dia mengakui jalan masih berdebu karena kondisi cuaca.
"Mengingat cuaca di Nusa Penida sangat panas mengakibatkan air bekas penyiraman cepat menguap. Untuk mengatasi hal tersebut kami sudah memerintahkan penyedia untuk menambah jadwal penyiraman terutama di daerah padat aktivitas penduduk," ujar Maryana.
Maryana mengaku sudah berkoordinasi dengan penyedia untuk segera mempercepat progres pekerjaannya. Adapun proyek peningkatan Jalan Sampalan-Toyapakeh di Nusa Penida ini dikerjakan oleh PT Aditya Sinar Pratama dengan konsultan pengawas CV Dinamika Desain.
"Terkait pengaspalan, kami juga sudah berkoordinasi kepada penyedia untuk segera melakukan percepatan," kata Maryana.
Proyek peningkatan jalan tersebut dikontrak pada 4 Mei 2026 dengan nilai Rp 50,6 miliar lebih yang bersumber dari APBD Tahun Anggaran 2026. "Waktu pelaksanaan ditargetkan 240 hari kalender, dengan masa pemeliharaan 360 hari kalender," pungkas Maryana.
(iws/iws)