SMP Negeri 1 Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, menggunakan ruang perpustakaan jadi tempat pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Hal itu dilakukan karena dua ruang komputer yang dimiliki tidak cukup untuk menampung 206 siswa dalam dua sesi TKA per gelombang.
"Sebenarnya kalau kami melaksanakannya dalam tiga sesi per hari, dua ruangan itu saja sudah sangat cukup. Tapi operator kami hanya satu, takutnya terlalu lelah, jadi kami memilih melaksanakan TKA dua sesi," kata Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Dawan Ni Kadek Yadnyani saat ditemui detikBali di ruangannya, Rabu (15/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaksanaan TKA di sekolah tersebut dibagi dalam dua gelombang, yakni gelombang III dan IV, masing-masing diikuti 104 dan 102 siswa. Setiap sesi di ruang TIK diisi 18 siswa. Sedangkan ruang perpustakaan yang dialihfungsikan menampung 16 siswa pada gelombang III dan 14 siswa pada gelombang IV yang dilaksanakan pada 15-16 April 2026.
"Sebenarnya ruangan TIK kami bisa menampung 25 sampai 30 siswa. Tapi karena dalam aturan dibatasi maksimal 18 sampai 20 siswa, kami memilih menambah ruang. Perpustakaan ini kami pilih karena di sana ada AC. Ini cuaca sedang panas, biar semua siswa sama-sama nyaman seperti yang di ruang TIK," jelas Yadnyani.
Lebih lanjut, ia menerangkan alasan melaksanakan TKA sebanyak dua sesi. Meski dalam jadwal pelaksanaan TKA SMP 2026, sekolah bisa memilih melaksanakan sampai empat sesi dalam sehari.
Menurutnya, kemungkinan untuk melaksanakan lebih dari dua sesi yang artinya akan berakhir sampai sekitar pukul 14.00 sampai 15.00 Wita terbentur dengan kesibukan guru yang masih mengajar sampai sore.
"Kami masuknya sampai sore. Kelas VIII dan IX masuk pagi, kelas VII masuk sore. Total siswa kami 631 dengan total 21 kelas. Sedangkan kami hanya punya 15 ruang kelas, total kekurangan 6 kelas," paparnya.
Ia menegaskan, alasan menggunakan ruang perpustakaan bukan karena kendala sarana prasarana, tapi lebih pada efektivitas dan efisiensi pelaksanaan TKA. Kendati demikian, jika dirunut dan ditarik ke persoalan awalnya, ia tak menampik jika kekurangan ruang kelas menjadi salah satu penyebab pihaknya untuk menyulap ruangan perpustakaan menjadi TIK.
Adapun kendala lainnya seperti ketersediaan komputer, listrik, dan jaringan dipastikan aman dan terkendali. Bahkan ia menyiapkan kilometer khusus untuk kebutuhan listrik komputer yang digunakan siswa melaksanakan TKA.
"Kami juga sebenarnya ada ruangan Multimedia, tapi tidak punya AC. Hanya kipas angin. Karena ini musim panas, takutnya siswa tidak nyaman," jelasnya.
Ia berharap hasil TKA siswanya memuaskan. Sejauh ini, kesulitan siswa dikatakan lebih banyak di tes numerasi dibanding literasi.
(nor/nor)










































