Seorang mahasiswi University of Kent di Inggris menceritakan pengalamannya terkena infeksi meningitis. Perempuan bernama Annabelle Mackay (21) itu mengaku bersyukur masih bisa hidup seusai dilarikan ke rumah sakit akibat infeksi yang menyakitkan.
Dilansir dari detikHealth, Mackay menduga dirinya tertular meningitis saat keluar malam di Club Chemistry di Canterbury pada 5 Maret lalu atau di lokasi lain pada malam sebelumnya. Mahasiswi jurusan hukum itu sempat mengira mengalami gejala COVID-19. Namun, hasil tes menunjukkan negatif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya mulai agak linglung dan saya tidak benar-benar bisa berbicara dengan jelas. Saya juga sangat sensitif terhadap cahaya, jadi saat itulah saya berpikir ada sesuatu yang benar-benar salah," tutur Mackay seperti dikutip dari Mirror UK.
Gejala Meningitis
Diketahui, kebingungan dan sensitivitas terhadap cahaya terang merupakan salah satu gejala meningitis. Selain itu, gejala meningitis dan sepsis dapat meliputi demam tinggi, tangan dan kaki dingin, muntah, nyeri otot dan sendi, kulit pucat atau berbintik, ruam, sakit kepala, leher kaku, sangat mengantuk, hingga kejang.
Berdasarkan rekaman yang dibagikan kepada media, Mackay terlihat mengenakan penutup mata dan ponsel saat dituntun keluar dari rumah oleh seorang wanita yang memegang lengannya. Ia mengaku sempat kehilangan kemampuan berbicara dan tidak mengingat proses saat dibawa ke rumah sakit dengan ambulans.
"Saya masih dalam keadaan delirium, dan pada itu saya juga kehilangan penglihatan, yang sangat menakutkan, terutama bagi teman dan keluarga saya," terang Mackay.
"Saya tidak terlalu memperhatikannya karena saya sangat kesakitan di tubuh saya, sehingga saya tidak punya waktu memproses bahwa saya tidak dapat melihat. Tetapi, itu jelas sangat menakutkan bagi keluarga dan teman-teman saya," sambungnya.
Meski begitu, Mackay merasa bersyukur masih bisa hidup. Tetapi, ia harus fokus pada pemulihan agar bisa kembali normal.
Sementara itu, ratusan mahasiswa mengantre untuk mendapatkan vaksin meningitis di kampus Universitas Kent. Mereka bahkan sempat ditolak pada Jumat lalu (20/3).
Direktur kesehatan masyarakat Dewan Kabupaten Kent, Anjan Ghosh, memperingatkan bahwa klaster rumah tangga sporadis berpotensi muncul di wilayah lain Inggris. Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) sebelumnya melaporkan jumlah kasus terkait wabah ini meningkat menjadi 29 kasus, dari sebelumnya 27 kasus. Sebanyak 18 kasus telah dikonfirmasi yang seluruhnya terkait dengan wilayah Kent.
Artikel ini telah tayang di detikHealth. Baca selengkapnya di sini!
(iws/iws)










































