Bahan bakar minyak (BBM) sejumlah daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) langka, termasuk Lembata. BBM mengalami kelangkaan imbas larangan kapal berlayar akibat cuaca buruk sehingga terkendala pendistribusian.
Kelangkaan ini menyebabkan harga BBM di pinggir jalan Kota Lewoleba, Lembata, melambung. Harga Pertalite di pinggir jalan berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu per botol air mineral ukuran 1.500 mililiter (ml).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bupati Lembata, Petrus Kanisius Tuaq, mengungkapkan harga BBM di atas normal merupakan ulah dari pengecer. Ia meminta masyarakat agar menyadari bahwa ular pengecer BBM itu merampas hak orang.
"Pemerintah sebelumnya sudah lakukan operasi, sita, dan lain-lain, tetapi muncul lagi," kata Kanisius saat dikonfirmasi detikBali, Minggu (25/1/2026).
Kanisius mengungkapkan sedang berkoordinasi dengan PT Pertamina dan PT Pertamina Patra Niaga untuk membahas beberapa hal, termasuk kuota, cuaca, transportasi, transparansi penjualan oleh SPBU, ulah pengecer, jam operasi di SPBU yang pendek, tidak tersedia BBM non subsidi, dan sebagainya. Pimpinan perusahaan, kata Kanisius, dalam waktu dekat akan datang untuk melihat langsung ke Lembata.
Kanisius juga telah mengajukan penambahan kuota BBM untuk Lembata. Penambahan dilakukan seiring bertambahnya jumlah penduduk di Lembata, yakni dari 142.379 pada 2022 menjadi 148.106 di 2025.
"Harus ada penambahan dan surat permohonan kuota kami sudah ajukan," jelas Kanisius.
Pemilik SPBU Tanah Merah, Frans Nining, mengatakan BBM di Lembata langka karena kendala cuaca.
"Kendala cuaca sehingga transportasi laut tidak dapat mengangkut semua BBM ke Lembata," ujar Frans.
(iws/iws)










































