Stok bahan bakar minyak (BBM) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menipis. Hal ini disebabkan oleh larangan kapal berlayar oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang akibat cuaca buruk berupa hujan dan gelombang tinggi. Stok BBM yang menipis berdampak pada pemadaman listrik di kabupaten tersebut.
"Stok BBM yang menipis ini membuat PLN di wilayah tersebut mengambil langkah untuk membatasi pemakaian listrik dengan pemadaman bergilir," ujar Area Manager Communication, Relations, & Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, dalam siaran pers yang diterima detikBali, Sabtu (24/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ahad, Rote Ndao merupakan salah satu titik yang terkena imbas pelarangan kapal berlayar akibat cuaca buruk. Stok BBM untuk pembangkit yang akan distribusikan terpaksa ditunda sampai adanya izin berlayar. Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus akan berupaya mempercepat distribusi BBM apabila larangan berlayar telah dicabut oleh KSOP Kelas III Kupang.
Pemadaman listrik di Rote Ndao juga berdampak pada pelayanan pengisian BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Menurut Ahad, SPBU di sana terpaksa melayani konsumen dengan bantuan genset. SPBU juga terpaksa dilakukan melalui penyesuaian penyaluran agar stok terjaga sampai pelayaran kembali dilakukan.
Manager PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Rote Ndao, Yohanes Fernandes Lay, mengakui stok BBM untuk operasional pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) terbatas. Walhasil, PLN ULP Rote Ndao terpaksa memadamkan listrik secara bergilir hingga 31 Januari 2026.
"Itu dilakukan selama pasokan BBM belum tiba agar mencegah terjadinya pemadaman total di seluruh Pulau Rote," terang Yohanes.
Arin Toulasik (35), warga Rote Ndao, mengatakan saat ini kerap terjadi pemadaman listrik di tak menentu. "Kadang pagi sampai siang mati. Hidup sedikit tidak lama mati lagi, sampai-sampai kami tiap hari pake pelita saja," ujar Arin melalui sambungan telepon.
Menurut Arin, selain listrik yang terus padam, BBM di pulau terselatan NKRI ini sangat mahal. "Bensin saat ini saja Rp 20 ribu/botol di eceran. Bahkan, ada juga yang jual dengan Rp 15 ribu, tetapi itu setengah botol saja," sesal dia.
Arin berharap kejadian ini dapat segera teratasi agar tidak terus menjadi ancaman bagi masyarakat. Terlebih, Rote Ndao tengah berada di musim tanam sehingga BBM sangat dibutuhkan oleh petani.
"Sekarang musim tanam, orang mau beli bensin mahal. Belum lagi solar untuk isi di traktor itu juga susah. Ya, kami harapkan pemerintah dan pihak PLN dan Pertamina bisa segera selesaikan masalah ini," harap Arin.
(iws/iws)










































