detikBali

Tragis Pasutri di Jembrana Tewas Diserang Kawanan Tawon

Terpopuler Koleksi Pilihan

Tragis Pasutri di Jembrana Tewas Diserang Kawanan Tawon


I Putu Adi Budiastrawan - detikBali

Pasutri tewas setelah diserang kawanan tawon di Banjar Munduk Anggrek, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, Rabu (21/1/2025). (Foto: Polres Jembrana/detikBali)
Pasutri tewas setelah diserang kawanan tawon di Banjar Munduk Anggrek, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali, Rabu (21/1/2025). (Foto: Polres Jembrana/detikBali)
Jembrana -

Nasib tragis menimpa pasangan suami istri (pasutri) di Banjar Munduk Anggrek, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali. Dewa Ketut Suparta (70) dan istrinya Dewa Ayu Made Gati (56) tewas seusai diserang kawanan tawon saat sedang beristirahat di perkebunan mereka.

Peristiwa memilukan itu terjadi sekitar pukul 15.00 Wita pada Selasa (20/1/2026). Saat itu, kedua korban hendak memindahkan tumpukan daun kelapa kering di bawah gubuk di kebun itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sesuai keterangan saksi, saat daun kelapa itu diangkat, ternyata di bawahnya terdapat sarang tawon yang cukup besar. Seketika gerombolan tawon berhamburan dan langsung menyerang kedua korban," ungkap Kapolsek Mendoyo, Kompol I Wayan Sartika, saat dikonfirmasi, Rabu (21/1/2026).

Kedua korban sempat berusaha menyelamatkan diri dengan berlari ke arah yang berbeda. Nahas, Dewa Ketut Suparta terjatuh. Kepalanya terbentur akar pohon hingga tak sadarkan diri. Saat itulah, kawanan tawon kembali mengerubungi dan menyengat tubuh pria itu hingga meninggal dunia di lokasi kejadian.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, sang istri sempat diselamatkan oleh warga dan langsung dilarikan ke Puskesmas 1 Mendoyo. Setelah mendapatkan penanganan medis selama dua jam, Dewa Ayu diperbolehkan pulang pada pukul 18.00 Wita.

Namun, sekitar pukul 20.00 Wita, kondisi Dewa Ayu mendadak memburuk dan tubuhnya kejang-kejang. Tak lama kemudian, ia mengembuskan napas terakhir.

"Istrinya sempat mendapatkan perawatan. Namun, korban mengalami kejang-kejang sehingga pihak keluarga kembali membawanya ke Puskesmas 1 Mendoyo. Setibanya di sana pada pukul 20.30 Wita, dokter piket menyatakan korban telah meninggal dunia," kata Sartika.

Sartika menerangkan keluarga korban telah mengikhlaskan kejadian tersebut sebagai musibah. Keluarga juga menolak untuk dilakukan autopsi terhadap kedua korban.

"Keluarga menyatakan menerima dengan ikhlas dan menolak untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah kedua korban," pungkasnya.




(iws/iws)












Hide Ads