Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengakui kerusakan dua jembatan di wilayah Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), tergolong parah. Putusnya Jembatan Termanu dan Kapsali membuat sejumlah wilayah terisolasi, termasuk memaksa pelajar menyeberangi sungai untuk beraktivitas.
Momen itu terekam dalam video yang viral di media sosial saat Gibran meninjau langsung Jembatan Termanu dan Kapsali di Desa Manubelon, Kecamatan Amfoang Barat Daya, Jumat (22/5/2026).
"Bapak Ibu yang saya hormati, tadi sudah kita lihat dua jembatan yang rusak dan saya lihat ini kerusakannya cukup parah," ujar Gibran saat berdialog dengan warga dalam video tersebut, dikutip detikBali, Jumat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam video berdurasi 1 menit 30 detik, Gibran menjelaskan kunjungannya ke Desa Manubelon sebenarnya tidak masuk agenda awal. Ia mengaku semula dijadwalkan bertolak ke Kabupaten Rote Ndao.
Namun, setelah mendarat di Kupang, ia bertemu mahasiswa yang menyampaikan aspirasi terkait kerusakan infrastruktur di wilayah Amfoang.
"Bapak ibu yang saya hormati, hari ini saya sebenarnya tidak ada jadwal ke Amfoang. Hari ini jadwal saya ke Pulau Rote, tetapi kemarin setelah mendarat di Kupang, saya bertemu dengan teman-teman mahasiswa ya, mereka menyampaikan aspirasi terkait infrastruktur di Amfoang," tutur Gibran.
Gibran menilai kondisi Desa Manubelon masih memprihatinkan dan terisolasi akibat infrastruktur yang rusak. Ia berjanji akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mencari solusi.
"Saya lihat juga di desa ini, di kampung ini keadaannya cukup kurang baik, terisolasi. Saya mohon maaf sekali setelah pulang dari sini saya akan berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk memberikan solusi yang terbaik untuk bapak ibu semua," kata Gibran, disambut tepuk tangan warga.
Ia juga menyoroti dampak putusnya dua jembatan tersebut terhadap aktivitas masyarakat, terutama anak-anak sekolah yang harus menyeberangi sungai.
"Tadi sudah dipaparkan efek dari putusnya jembatan, mungkin adik-adik dan anak-anak sekolah yang harus menyeberang sungai basah-basahan," pungkas putra sulung Presiden ke-7 Joko Widodo itu.
(dpw/dpw)










































