detikBali

Sampah Laut Menggunung di Pantai Kuta, Diangkut 30 Truk per Hari

Terpopuler Koleksi Pilihan

Sampah Laut Menggunung di Pantai Kuta, Diangkut 30 Truk per Hari


Fabiola Dianira - detikBali

Sampah laut di Pantai Kuta, Badung, Selasa (20/1/2025).(Fabiola Dianira)
Foto: Sampah laut di Pantai Kuta, Badung, Selasa (20/1/2025). (Fabiola Dianira/detikBali)
Badung -

Sampah laut kembali menggunung di Pantai Kuta, Badung sejak Sabtu (17/11/2026). Tumpukan sampah didominasi kayu terlihat mengular di sepanjang selatan bibir Pantai Kuta. Dalam sehari, volume sampah yang diangkut mencapai 25 hingga 30 truk dengan kapasitas sekitar 5 meter kubik per truk.

Asisten Manajer DTW Pantai Kuta, I Putu Gilang Bayu Sadra Putra, mengatakan fenomena ini merupakan kejadian tahunan yang disebabkan oleh angin barat. Sampah sebenarnya sudah mulai muncul sejak Desember 2025, tapi masih dalam jumlah kecil. Kondisi ekstrem baru terjadi sejak Sabtu (17/1/2026) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau sampah laut itu sebenarnya dari awal itu di bulan Desember sudah mulai keluar. Cuma itu masih kecil-kecil modelnya yang seperti sampah sama plastik kecil dan seperti rumput laut kecil. Yang mulai ekstrem itu dimulai dari tanggal 17 kemarin Sabtu," ujarnya saat ditemui di kantor DTW Pantai Kuta, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan sampah yang terdampar di Pantai Kuta terdiri dari berbagai jenis, mulai dari kayu, bambu, plastik, hingga sandal. Namun, kayu menjadi jenis sampah yang paling dominan.

ADVERTISEMENT

"Ada kayu gelondongan yang besar, ada juga kayak semacam batang-batang kayu gitu. Ada bambu, ada juga plastik, sandal dan segala macam itu sudah menjadi sampah tahunan yang kami terima di Pantai Kuta," imbuhnya.

Saat ini, tumpukan sampah mendarat di bibir pantai dari kawasan candi bentar hingga ke arah selatan Pantai Kuta. Awalnya, sampah tersebar di sepanjang bibir pantai sebelum akhirnya terseret arus laut ke selatan.

"Kebetulan tadi malam arusnya bergerak ke arah selatan. Jadi awal mulanya itu sampah itu ada di depan kantor, jadi semalam airnya besar terus arusnya ke selatan," jelasnya.

Ia menambahkan, pengangkutan sampah dilakukan menggunakan tiga alat berat yang merupakan bantuan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung. Sampah yang diangkut bisa mencapai 30 truk per hari.

"Jadi, setiap hari kita ada sampah 25 sampai 30 truk per hari. Jadi, setelah itu kurang lebih 5 kubik," jelasnya.

Sampah tersebut kemudian dikumpulkan sementara di kawasan setra atau kuburan Pantai Kuta sebelum dikirim ke TPA Suwung.

Gilang mengakui kondisi ini mengganggu kenyamanan wisatawan yang berkunjung. Namun, sebagian wisatawan sudah memahami bahwa sampah tersebut merupakan sampah kiriman akibat fenomena alam.

"Tentunya mengganggu. Cuma ya kalau wisatawan yang sudah tahu dan sudah paham bahwa sampah yang dihasilkan di pinggir pantai ini bukan sampah yang kita produksi di pantai Kuta. Jadi, sampah ini sampah kiriman," ungkapnya.



(hsa/hsa)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan









Hide Ads