detikBali

Menengok TPS3R Desa Cemagi Selesaikan Sampah Mandiri

Terpopuler Koleksi Pilihan

Menengok TPS3R Desa Cemagi Selesaikan Sampah Mandiri


Agus Eka - detikBali

Aktivitas pengolahan sampah di TPS3R Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, Jumat (16/1/2026). (Foto: Agus Eka/detikBali)
Aktivitas pengolahan sampah di TPS3R Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, Jumat (16/1/2026). (Foto: Agus Eka/detikBali)
Badung -

Masyarakat di Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, mulai bergerak agar dapat mengolah sampah secara mandiri. Termasuk dengan memaksimalkan keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) Sarwa Metu Wangi yang dibangun di desa tersebut.

Manajer Operasional TPS3R Sarwa Metu Wangi, Made Rai Sutrisna, menuturkan jumlah sampah yang diolah saat musim hujan seperti saat ini mencapai 15 ton per hari. Penanganan sampah di tingkat desa dilakukan seiring dengan kebijakan pemerintah yang mulai membatasi operasional TPA Suwung.

"Kalau musim kemarau itu sekitar 12 ton, tapi sekarang karena musim hujan banyak potongan kebun jadi naik ke 15 ton. Kami sedang maksimalkan insinerator bekerja 24 jam supaya semua sampah ini bisa diselesaikan seluruhnya di Cemagi," ujar Rai, Jumat (16/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rai menjelaskan kapasitas pengolahan sampah di TPS3R tersebut sekitar 8-9 ton per hari dengan catatan sampah sudah terpilah. Manajemen menyiagakan 42 tenaga kerja untuk mendukung operasional alat, mulai dari mesin pemilah hingga proses pembakaran residu dengan insinerator.

ADVERTISEMENT

"Tenaga kerja kami sekarang ada 42 orang untuk mengejar target pengolahan maksimal. Sebenarnya kalau sampah masyarakat sudah terpilah, kapasitas kami itu bisa sampai 8 atau 9 ton per harinya," kata Rai.

Rai mengakui pesatnya pertumbuhan ekonomi dan pariwisata turut menyebabkan terjadinya pergeseran komposisi sampah di Cemagi. Menurutnya, produksi residu kini setara dengan sampah organik akibat perubahan pola konsumsi masyarakat. Hal itu seiring dengan maraknya makanan berkemasan plastik serta penggunaan bahan kimia pada sarana upacara.

"Teorinya organik itu 70 persen, tapi riilnya sekarang sudah bisa dibilang 50:50 karena banyak bungkus makanan yang berlapis-lapis. Belum lagi bahan upacara sekarang pakai bahan kimia pengawet dan pencelup warna, jadi masuk kategori residu," imbuh pria berusia 57 tahun tersebut.

Jenis residu yang sulit diolah meliputi popok sekali pakai, plastik kotor, hingga sisa bahan bangunan yang tidak bisa masuk mesin pencacah. Selain itu, penggunaan steples dan styrofoam pada perlengkapan adat memperumit proses pemilahan di fasilitas tersebut, terutama untuk olah sampah organik.

Rai menyebut pemerintah desa sudah membentuk satuan tugas (satgas) untuk mendorong kesadaran warga dalam memilah sampah langsung dari rumah. Saat ini, tingkat kepatuhan pemilahan sampah mencapai 60 persen.

"Kami masih toleransi kalau organik tercampur residu sekitar 20 sampai 30 persen karena nanti dipilah lagi di tempat kami. Infrastruktur dan kendaraan pengangkut juga sudah mulai lengkap, ada yang khusus organik dan khusus residu," imbuhnya.

Volume Sampah Meningkat

Sejak berdiri pada November 2022, sampah yang masuk ke TPS3R ini terus meningkat. Pengelola menargetkan penghentian total pengiriman sampah ke TPA Suwung saat memasuki musim kemarau mendatang.

"Dulu awal berdiri cuma terima 2 truk sampah, sekarang sudah naik jadi 5 truk per hari karena pembangunan di sini luar biasa. Sekarang masih ada sekitar 40 persen sampah yang keluar, tapi harapannya nanti musim kemarau bisa 100 persen tuntas di sini saja," ujar Rai.

Terkait pembiayaan, operasional TPS3R mengandalkan iuran warga dan subsidi dari pemerintah desa guna menjaga keseimbangan anggaran. Biaya operasional yang cukup tinggi membuat skema subsidi silang diterapkan bagi wilayah komersial yang ada di desa tersebut.

Adapun, TPS3R di Cemagi dilengkapi satu unit mesin pemilah atau gibrik bantuan Pemda Badung. Manajemen juga terus berupaya untuk mempercepat distribusi sampah. Sementara itu, sampah organik yang telah dicacah dikirim ke Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani untuk dijadikan pupuk kompos.

"Sampah organik yang sudah dicacah jadi butiran kecil kami kirim ke PDU Mengwitani per dua hari satu truk karena ruang kami terbatas. Di sana ada fasilitas pengomposan hibah dari Jepang, nanti berapa persen hasil komposnya dikembalikan ke kami," tutur Rai.

Mesin pembakar residu atau insinerator baru mulai dioperasikan secara efektif pada awal Desember 2025. Alat pinjaman Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung itu diharapkan mampu memusnahkan hingga 12 ton residu dalam sehari jika kondisi sampah dalam keadaan kering.

"Kami sempat susah cari orang sampai harus ambil tenaga dari luar karena butuh 12 orang untuk operasional tiga sif. Kalau teorinya bisa bakar 12 ton per 24 jam, tapi musim hujan begini sampah lembap jadi pengaruh ke volume residu yang bisa dibakar," imbuhnya.




(iws/iws)











Hide Ads
LIVE