Sudah 97 Polisi Diperiksa di Kasus Sambo, Kapolri Ungkap Fakta Lainnya

Sudah 97 Polisi Diperiksa di Kasus Sambo, Kapolri Ungkap Fakta Lainnya

Tim detikNews - detikBali
Rabu, 24 Agu 2022 12:46 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengumumkan penanganan terbaru kasus tewasnya Brigadir J di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (9/8/2022). Eks Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: Agung Pambudhy)
Bali -

Kasus pembunuhan terhadap Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J berbuntut panjang. Terkini, jumlah personel yang diperiksa terkait kasus tersebut kembali bertambah. Saat ini sudah ada 97 personil yang diperiksa. Tak hanya itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga mengungkap fakta lainnya seputar kasus yang melibatkan Irjen Ferdy Sambo tersebut.

Awalnya Sigit menjelaskan bahwa dari 97 personil diperiksa, 35 orang di antaranya diduga melanggar kode etik. Selanjutnya, 18 orang dari yang diduga melanggar itu telah ditempatkan di penempatan khusus.

"Kami telah memeriksa 97 personil, 35 orang diduga melakukan pelanggaran kode etik profesi," kata Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi III DPR, di Senayan, Jakarta, Rabu (24/8/2022), dikutip dari detikNews.


"Dari 35 personel tersebut 18 sudah ditempatkan di penempatan khusus, sementara yang lain masih berproses pemeriksaannya," sambungnya.
Sigit kemudian menjelaskan dua orang di antaranya sudah ditetapkan tersangka. Sehingga tersisa 16 personel yang masih berada di penempatan khusus (patsus).

"Saat ini sudah ditetapkan sebagai TSK terkait dengan laporan polisi di Bareskrim sehingga tinggal 16 orang dipatsus. Sisanya menjadi tahanan terkait dengan kasus yang dilaporkan di Bareskrim," ujarnya.

Di hadapan anggota Komisi III DPR, Sigit menyebut dirinya berkomitmen untuk bisa menyelesaikan proses etik dalam 30 hari ke depan. Hal ini guna memberikan kepastian hukum terhadap terduga pelanggar.

"Kami tentunya berkomitmen untuk segera bisa menyelesaikan proses kode etik dan profesi dalam waktu 30 hari ke depan. Ini juga untuk memberikan kepastian hukum terhadap para terduga pelanggar," lanjut Sigit.

Sebelumnya, berdasarkan data terakhir, personel polri yang diperiksa atas kasus Brigadir J berjumlah 83 orang. Dari jumlah itu, 35 orang direkomendasi ditempatkan di tempat khusus (patsus) Mako Brimob, Depok.

"Timsus khususnya pemeriksaan khusus per hari ini kita telah melakukan pemeriksaan khusus terhadap anggota kita sebanyak 83 orang. Yang sudah direkomendasi ke patsus sebanyak 35 orang," ujar Irwasum Komjen Agung Budi Maryoto dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (19/8/2022).

Ferdy Sambo Sempat Bersikukuh dengan Skenario Awal

Fakta lainnya terkait kasus pembunuhan Brigadir J kembali diungkap Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Ia mengatakan Ferdy Sambo sempat bersikukuh dengan skenario awal, tetapi akhirnya dia mengakui perbuatannya.

Dilansir dari detikNews, Sigit awalnya mengulas langkah yang telah diambil, termasuk melakukan mutasi yang bersifat demosi terhadap Irjen Ferdy Sambo yang saat itu menjabat sebagai Kadiv Propam Mabes Polri.

Menurut Sigit, setelah melakukan mutasi, baru lah Timsus Polri tidak lagi mendapat hambatan untuk mengusut kasus pembunuhan Brigadir J. Timsus kemudian menetapkan Bharada Richard Eliezer atau Bharada E sebagai tersangka. Saat itu, Kapolri mengatakan Bharada E mengaku akan menyampaikan yang sebenarnya.

"Kita tanyakan kenapa yang bersangkutan berubah, ternyata pada saat itu Saudara Richard mendapatkan janji dari Saudara FS akan membantu melakukan atau memberikan SP3 terhadap kasus yang terjadi, tapi ternyata faktanya Richard tetap menjadi tersangka sehingga atas dasar tersebut Richard menyampaikan akan mengatakan atau memberikan keterangan secara jujur dan terbuka," kata Sigit.

Sigit menyebut, pengakuan Bharada E itu menjadikan semua informasi awal berubah. Bharada E lalu meminta pengacara baru dan tidak mau dipertemukan dengan Ferdy Sambo. Sigit mengatakan berdasarkan keterangan tersebut, anggota Timsus yaitu Kadiv TIK Polri Irjen Slamet Uliandi, menjemput Ferdy Sambo.

"Berangkat dari keterangan Saudara Richard kami meminta salah satu anggota timsus pada saat itu Kadiv TIK untuk menjemput saudara FS," ujarnya.

Saat diperiksa, Sigit mengatakan, Sambo masih mengelak. Namun akhirnya penyidik memutuskan menempatkan khsusus Sambo di Mako Brimob.

"Di saat awal FS masih belum mengakui, masih bertahan dengan keterangan awal, dan berdasarkan keterangan Saudara Richard akhirnya timsus memutuskan untuk melakukan penempatan khusus di Mako Brimob Polri," ujarnya.

Akhirnya Richard menuliskan keterangannya tentang apa yang dia ketahui terkait kasus itu pada 6 Agustus lalu. Ia mengaku diperintahkan Sambo menembak Brigadir J.

"Richard kemudian menuliskan keterangannya secara tertulis dimana di situ menjelaskan secara urut mulai dari Magelang sampai TKP Duren Tiga dan mengakui bahwa diirinya menembak Saudara Yoshua atas perintah saudara FS," kata Sigit.



Simak Video "Kapolri: Jika Kapolda Tak Bisa Kembalikan Kepercayaan Publik, Saya Evaluasi"
[Gambas:Video 20detik]
(iws/iws)