Pastikan Proyek Jalan, KLH Bali Ungkap Model Baru Tersus LNG Sanur

Triwidiyanti - detikBali
Selasa, 02 Agu 2022 17:24 WIB
Lokasi blok Tahura merupakan area zona pelabuhan RWP3K provinsi Bali sehingga sudah sesuai untuk kegiatan terminal LNG
Lokasi blok Tahura merupakan area zona pelabuhan RWP3K provinsi Bali sehingga sudah sesuai untuk kegiatan terminal LNG (Foto: Triwidiyanti)
Denpasar -

Kendati masih menuai pro dan kontra, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali memastikan proyek pembangunan terminal khusus (Tersus) LNG (Liquid Natural Gas) tetap dilanjutkan.

Hanya saja, pembangunan tarsus tidak jadi di atas hutan mangrove alias bakau sebagaimana informasi awal.

"Pak Gubernur (Gubernur BaliI Wayan Koster) sudah menyampaikan di forum, pada prinsipnya Perusda tidak akan membangun atau merusak mangrove,"tegas Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Made Teja saat dihubungi detikbali, Selasa (2/8/2022)


Made Teja menambahkan, proyek pembangunan tarsus LNG akan dilakukan di atas laut.

"Nanti hanya pipa yang lewat itu sebesar kira-kira 50 meter. Lubang di bawah mangrove 10 meter dengan teknologi yang ada masuk dia pipanya di bawah tanah akan tembus ke jalan dia," jelasnya kepada detikBali dihubungi Selasa (2/8/2022).

Menurutnya, model tersebut dinilai selain bagus, juga dari segi kebutuhan tidak akan merusak mangrove sama sekali.

"Jelas dengan teori itu tadi dengan penanaman dibawah mangrove tidak menjadi masalah. Asalkan SOP (system operation procedure) nya ketat ini," katanya.

Ditanya apakah model yang digunakan adalah jenis FSRU (Floating Storage Regasification Unit), Made Teja menegaskan pihaknya tidak mengetahui nama modelnya, hanya saja nantinya pipa akan ditanam di bawah mangrove.

Demikian halnya soal apakah pembangunan dengan model di tengah laut ini sudah positif akan dilakukan pihaknya mengaku tidak mengetahuinya.

Hanya saja pihaknya sangat mendukung pembangunan Tersus LNG dengan menggunakan model tersebut.

"Nantinya tangki akan mengapung di tengah laut. Dari kapal itu datangnya 42 hari sekali kapalnya baru mendarat di sana. Dari kapal dibangun pipa dipasang turun di bawah mangrove kira- kira itu," ungkap Made Teja.

Prinsipnya imbuh Made Teja sama dengan PT Pelindo Persero yaitu posisi kapal mengapung di tengah laut.

"Ya semacam itu (mengapung) disambungkan tempat penampungannya itu di sana akan mengapung di laut," ucap Made Teja.

Kemudian, teknis lainnya, pipa akan tembus di depan desa Sidakarya tepatnya di pinggir jalan By Pass Ngurah Rai.

"Ya nantinya akan dibangun di situ pipa akan tembus di pinggir jalan Bypass di situ nantinya," ungkap Made Teja.

Made Teja mengaku, kapasitasnya hanyalah akan berbicara soal mangrove dahulu karena ini akan dibangun pipa sedalam 10 meter dan menurut Made Teja akar mangrove itu tidak lebih 1-3 meter.

"Jadi tidak ada masalah," tegasnya.

Dan untuk pembangunan pipa dikatakannya, tetap akan dibangun di blok khusus Tahura karena menurutnya kajiannya sudah ada sejak dari dahulu kala.

Sebelumnya, pihak PT DEB (Dewata Energi Bersih) selaku pihak yang ditunjuk gubernur Bali untuk membangun tersus LNG berencana akan membangun di TPA Suwung. Namun menurutnya, hal itu tidak benar dan justru akan beresiko.

"Kalau gasnya lepas siapa yang mau tanggung jawab," cetusnya.

Kini pihaknya hanya berupaya bagaimana melakukan pengembangan khususnya di desa Sanur Kauh (Sesetan, Sanur, Sidakarya).

"Mudah-mudahan akan berhasil dan lingkungan akan terjaga," harapnya.

Pihaknya sekali lagi menegaskan bahwa tersus LNG tidak akan dibangun diatasi mangrove.

"Jadi saya tegaskan saya sudah lama di Lingkungan Hidup, perlu saya sampaikan saya sudah biasa menghadapi seperti itu masalah lingkungan itu kan banyak.

Bali dengan keterbatasan bagaimana upaya kita perlu komunikasi yang bagus dengan desa -desa ini perlu pendekatan komunikasi perlu diperbaiki," tandas Made Teja.



Simak Video "Ekowisata Mangrove Perancak Bali Suguhkan Jogging Track di Dalam Hutan"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)