Bali Waste Cycle Bakal Dijadikan Lokasi Kunjungan Side Event G20

Sui Suadnyana - detikBali
Sabtu, 14 Mei 2022 23:13 WIB
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno mengunjungi tempat pengolahan sampah Bali Waste Cycle
Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno mengunjungi tempat pengolahan sampah Bali Waste Cycle. (Foto: Sui Suadnyana)
Denpasar -

Salah satu tempat pengolahan sampah di Bali yakni Bali Waste Cycle direncanakan bakal menjadi lokasi kunjungan side event Presidensi The Groups of Twenty (G20).

Bali Waste Cycle bakal dijadikan kunjungan dalam side event yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Tempat pengolahan sampah ini dipilih langsung oleh Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno.


"Nanti G20 saya juga ingin men-show case apa yang dilakukan oleh Bali Waste Cycle, mungkin bentuknya akan MOU dan aktivasi dari beberapa kegiatan," kata Sandiaga saat mengunjungi Bali Waste Cycle, Sabtu (14/5/2022).

"Dan nanti kami mintakan di Deputi Bidang Investasi dan Industri saat kami melakukan side event G20, side trip-nya adalah juga berkunjung pada Bali Waste Cycle," imbuh Sandiaga.

Menurut Sandiaga Uno, langkah yang dilakukan oleh Bali Waste Cycle adalah bagian daripada ekonomi baru yang berpihak kepada penciptaan lapangan kerja. Terlebih, Bali Waste Cycle mampu menghadirkan 60 lapangan kerja.

"Baru dua tahun sudah 60 lapangan kerja dan ini juga merupakan investasi sosial dan kewirausahaan yang sangat luar biasa yang diciptakan," terang mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Sandiaga mengaku mengapresiasi keberadaan Bali Waste Cycle, selain menciptakan lapangan kerja, tunggakan BPJS Kesehatan juga bisa turut dibayarkan menggunakan tunggakan sampah plastik.

"Ini merupakan inovasi yang patut kita apresiasi dan kita berikan tentunya fasilitasi oleh pemerintah dan ini terus berkembang," jelasnya.

Melalui kehadiran pengolahan sampah seperti Bali Waste Cycle, Sandiaga berharap target untuk mengurangi sampah 30 persen sampah dan mengelola sampah dengan ditangani lebih baik hingga 70 persen bisa ditangani di 2025.

Direktur Utama Bali Waste Cycle (BWC) Putu Ivan Yunatana mengatakan, pihaknya dalam program ini melakukan penanganan sampah berbasis sumber dengan mengedukasi kepada masyarakat.

"Jadi yang kami lakukan adalah penanganan sampah berbasis sumber. Kami melakukan edukasi kepada masyarakat untuk program pilah sampah sesuai dengan Pergub yang dikeluarkan oleh Pak Gubernur Nomor 97 tahun 2018," ujarnya.

Setelah masyarakat mau memilah sampah di rumah, pihaknya di Bali Waste Cycle kemudian membelinya. Sampah tersebut kemudian diolah. Bahkan pihaknya telah mampu mengolah sampah hingga 60 ton.

"Nah jumlah sampah plastik khususnya karena kami memang menangani sampah plastik itu rata-rata kurang lebih 50 sampai 60 ton. Nah kami berharap dalam perjalanan berikutnya akan lebih bisa meningkatkan kapasitas lagi sehingga tentunya dengan demikian lingkungan Bali akan lebih baik," jelasnya.



Simak Video "Strategi Menparekraf Genjot Pelaku UMKM di Daerah"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)