Pernah mencoba membatalkan langganan aplikasi, tapi justru harus melewati banyak halaman sebelum menemukan tombol pembatalan? Atau menemukan tombol untuk berlangganan yang terlihat jelas, sementara pilihan untuk menolak atau berhenti berlangganan justru tersembunyi?
Situasi itu bisa berkaitan dengan dark patterns, desain antarmuka digital yang sengaja dibuat untuk mengarahkan atau memengaruhi keputusan pengguna. Praktik ini dapat membuat konsumen melakukan tindakan yang sebenarnya tidak mereka inginkan, mulai dari menyetujui langganan hingga memberikan data pribadi.
Apa Itu Dark Patterns?
Dark patterns yaitu pola desain pada situs web atau aplikasi yang memanipulasi pengguna melalui tampilan, susunan pilihan, maupun alur penggunaan. Desain itu bukan sekadar sulit dipahami, tetapi dapat mengarahkan pengguna agar memilih tindakan yang lebih menguntungkan penyedia layanan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian Dark Patterns dalam Digital Marketing: Etika dan Dampaknya terhadap Loyalitas Konsumen 2025, I Nyoman Susipta menjelaskan praktik ini dapat digunakan untuk mendorong pembelian impulsif, mengumpulkan data pribadi, hingga menyulitkan pengguna membatalkan layanan berlangganan.
Bentuk Dark Patterns yang Sering Ditemui
Salah satu bentuknya adalah forced continuity, yaitu kondisi ketika layanan terus berlanjut dan pengguna kesulitan menghentikannya. Misalnya, proses pembatalan dibuat lebih panjang dibandingkan proses pendaftaran atau tombol berhenti berlangganan sulit ditemukan.
Ada pula hidden costs atau biaya tersembunyi yang baru muncul menjelang transaksi selesai. Bentuk lainnya adalah confirmshaming, yakni penggunaan kalimat yang membuat pengguna merasa bersalah ketika menolak tawaran, serta countdown timer yang menimbulkan kesan bahwa kesempatan membeli akan segera berakhir.
Penelitian Susipta terhadap 180 responden pengguna layanan digital berusia 18-40 tahun menemukan bahwa 62% responden mengaku pernah mengalami setidaknya satu bentuk dark patterns. Bentuk yang paling sering ditemui dalam penelitian adalah biaya tersembunyi dan penghitung waktu yang memberi kesan penawaran terbatas.
Baca juga: Peran Baru Pustakawan di Era AI |
Mengapa Dark Patterns Bisa Merugikan Konsumen?
Desain manipulatif dapat membuat pengguna mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan seluruh konsekuensinya. Ketika tombol pembatalan sulit ditemukan atau biaya tambahan baru terlihat pada tahap akhir, pengguna berisiko mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang direncanakan.
Dampaknya juga dapat meluas ke kepercayaan terhadap penyedia layanan. Penelitian Susipta menunjukkan bahwa penggunaan dark patterns berkaitan dengan penurunan persepsi konsumen terhadap etika perusahaan dan berpengaruh negatif terhadap loyalitas konsumen.
Temuan lain dalam artikel Dark Patterns pada Platform Digital dalam Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia yang terbit di jurnal Legal Note 2026 menyoroti desain manipulatif dapat mengurangi kebebasan konsumen dalam menentukan pilihan. Kajian itu juga menilai perlindungan konsumen perlu memperhatikan bukan hanya isi informasi, tetapi juga cara pilihan disajikan melalui antarmuka digital.
Cara Mengenali dan Menghindari Dark Patterns
Pengguna dapat lebih berhati-hati sebelum menekan tombol berlangganan atau menyetujui suatu penawaran. Periksa apakah layanan mengenakan biaya otomatis setelah masa uji coba, kapan pembayaran berikutnya dilakukan, dan bagaimana prosedur pembatalannya.
Jika ingin berhenti berlangganan, periksa pengaturan akun, menu pembayaran, atau pusat bantuan resmi layanan. Simpan bukti pembatalan dan periksa kembali tagihan pada periode berikutnya. Jangan terburu-buru mengambil keputusan hanya karena muncul penghitung waktu atau pesan yang mendesak.
Perlindungan Konsumen di Era Digital
Di Indonesia, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memuat hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur. Namun, kajian Prakoso, Safitri, dan Ramadhan dalam jurnal Legal Note pada 2026 menyebutkan bahwa aturan yang ada belum secara khusus mengatur manipulasi melalui desain antarmuka digital.
Kajian itu menyoroti perlunya penguatan perlindungan konsumen agar perkembangan teknologi dan desain layanan digital tidak mengurangi kebebasan pengguna dalam menentukan pilihan.
Layanan digital yang baik bukan hanya memudahkan pengguna saat mendaftar atau melakukan pembayaran, tetapi juga memberikan informasi yang transparan dan proses pembatalan yang jelas. Dengan mengenali dark patterns, konsumen dapat lebih cermat mengambil keputusan saat menggunakan aplikasi maupun layanan berlangganan.
Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom
Simak Video "Video Komisi VII DPR Bakal Panggil BPKN-Kemenpar Bahas Konser yang Bermasalah"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
