Underconsumption Core, Tren Membeli Lebih Sedikit di Era Konsumtif

Underconsumption Core, Tren Membeli Lebih Sedikit di Era Konsumtif

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Selasa, 20 Okt 2026 05:00 WIB
Tren Belanja Instan Diminati, Lebih Cepat Shopee Belanja Instant 1 Jam Tiba
Ilustrasi tren belanja (Foto: Freepik)
Medan -

Tren membeli barang baru demi mengikuti perkembangan zaman semakin mudah ditemukan di media sosial. Mulai dari pakaian, produk kecantikan, hingga barang-barang penunjang gaya hidup, berbagai produk ditampilkan seolah-olah menjadi kebutuhan. Di tengah kebiasaan tersebut, muncul tren underconsumption core yang mengajak masyarakat untuk lebih bijak menggunakan barang yang sudah dimiliki.

Underconsumption core, tren yang menekankan konsumsi secara sadar, bukan sekadar membeli barang karena sedang populer. Tren ini mendorong seseorang untuk memanfaatkan barang yang masih layak pakai, mengurangi pembelian yang tidak diperlukan, serta mempertimbangkan fungsi barang sebelum memutuskan untuk membelinya.

Alih-alih terus mengikuti tren, seseorang dapat memilih untuk menggunakan pakaian yang sudah ada di lemari, menghabiskan produk sebelum membeli yang baru, atau memperbaiki barang yang masih bisa digunakan. Kebiasaan itu menjadi salah satu cara untuk mengurangi konsumsi berlebihan dalam kehidupan sehari-hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tren ini juga berkaitan dengan kebiasaan berbelanja yang dipengaruhi media sosial. Konten rekomendasi produk, ulasan barang, hingga tren belanja dapat membuat seseorang tertarik membeli sesuatu meskipun belum tentu membutuhkannya. Karena itu, underconsumption core mengajak konsumen untuk lebih mempertimbangkan kebutuhan daripada sekadar mengikuti keinginan.

Berkaitan dengan Tren De-influencing

Fenomena konsumsi yang lebih sadar juga dibahas dalam penelitian berjudul Fenomena De-Influencing dalam Gaya Berbusana Minimalis Pada Gen Z di Indonesia oleh Krisma Desita dan rekannya. Penelitian itu diterbitkan dalam jurnal Jejak Digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2026.

ADVERTISEMENT

Penelitian itu membahas bagaimana fenomena de-influencing berkaitan dengan pilihan gaya berpakaian minimalis di kalangan Gen Z. Secara umum, de-influencing merupakan fenomena ketika konten di media sosial mendorong audiens untuk mempertimbangkan kembali kebutuhan terhadap suatu produk, alih-alih terus mengikuti rekomendasi belanja.

Dalam konteks berpakaian, penelitian itu membahas pilihan pakaian yang fungsional, tahan lama, dan mudah dipadukan. Pendekatan ini menempatkan kegunaan pakaian sebagai pertimbangan penting, bukan hanya mengikuti model yang sedang populer.

Temuan penelitian itu juga menggambarkan bahwa informan mempertimbangkan kecocokan pakaian dengan kebutuhan serta seberapa sering pakaian itu akan digunakan. Beberapa kebiasaan yang dibahas antara lain memilih pakaian dengan warna netral, menyusun lemari pakaian secara lebih sederhana, dan menunda pembelian sebelum memutuskan untuk membeli barang baru.

Penelitian itu turut menjelaskan, pendekatan itu dapat membantu informan mengurangi pembelian pakaian yang tidak diperlukan, membuat lemari lebih tertata, serta mengurangi tekanan untuk mengikuti tren. Meski demikian, penelitian tersebut secara khusus membahas de-influencing dan gaya berpakaian minimalis, sehingga temuannya tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh praktik underconsumption core.

Tidak Harus Berarti Hidup Serba Kekurangan

Mengurangi konsumsi bukan berarti seseorang harus berhenti membeli barang sama sekali atau hidup dengan fasilitas seminimal mungkin. Intinya, membedakan barang yang benar-benar dibutuhkan dari barang yang hanya menarik karena sedang populer.

Seseorang tetap dapat membeli pakaian, produk perawatan diri, maupun barang penunjang aktivitas apabila memang diperlukan. Namun, keputusan itu sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, kemampuan finansial, kualitas, dan kegunaan barang dalam jangka panjang.

Selain itu, barang yang masih layak digunakan tidak perlu segera diganti hanya karena muncul model terbaru. Memperbaiki barang yang rusak ringan, menggunakan kembali barang lama, atau memilih produk yang lebih tahan lama juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi yang lebih bijak.

Media Sosial Bisa Mendorong Konsumsi Sekaligus Kesadaran

Media sosial memiliki peran yang beragam dalam membentuk kebiasaan konsumsi. Di satu sisi, paparan tren dan promosi dapat mendorong keinginan untuk membeli barang baru. Di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang bagi konten yang mengajak pengguna mengevaluasi kebiasaan belanja mereka.

Fenomena de-influencing yang dibahas dalam penelitian tersebut menunjukkan bagaimana media sosial juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan agar konsumen tidak selalu mengikuti rekomendasi produk. Pesan ini sejalan dengan semangat underconsumption core, yaitu lebih mempertimbangkan manfaat barang daripada sekadar dorongan untuk memilikinya.

Di tengah banyaknya tren yang datang silih berganti, underconsumption core mengingatkan bahwa memiliki lebih banyak barang tidak selalu berarti hidup menjadi lebih baik. Yang terpenting adalah bagaimana seseorang menggunakan barang secara tepat, sesuai kebutuhan, dan tidak terjebak dalam kebiasaan membeli hanya demi mengikuti tren.

Artikel ini ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads