Kenapa Ulos Tidak Sekadar Kain? Ini Maknanya dalam Budaya Batak

Kenapa Ulos Tidak Sekadar Kain? Ini Maknanya dalam Budaya Batak

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Sabtu, 10 Okt 2026 09:57 WIB
Salah satu kerajinan khas Toba yang paling dikenal masyarakat adalah kain tradisionalnya yang bernama Ulos dan Sarung Batak. Intip proses pembuatannya yuks.
Foto: Pradita Utama
Medan -

Ulos dikenal sebagai kain tradisional yang lekat dengan masyarakat Batak, terutama dalam berbagai upacara adat. Namun, makna ulos tidak berhenti pada kain yang dikenakan atau disampirkan di tubuh.

Budayawan Batak Thompson Hs menjelaskan, ulos pada awalnya memiliki fungsi praktis sebagai penghangat tubuh, terutama bagi leluhur Batak yang tinggal di daerah bercuaca dingin. Seiring waktu, maknanya berkembang menjadi simbol dalam hubungan kekerabatan, adat, ritual, dan upacara.

"Ulos pada awalnya dimaknai sebagai penghangat, baik karena cuaca dingin maupun untuk hubungan kekerabatan," jelas Thompson.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, ulos juga mengalami perkembangan sebagai karya estetika, terutama ketika motif dan bentuknya diadaptasi oleh para desainer untuk kebutuhan komersial dan industri kreatif.

ADVERTISEMENT

Pemberian ulos dalam tradisi Batak dapat dimulai bahkan sebelum seorang anak dilahirkan. Thompson mencontohkan tradisi mangirdak atau mambosuri dalam masyarakat Batak Toba, yakni kebiasaan adat ketika ibu yang mengandung tujuh bulan menerima ulos tertentu dan makanan sebagai bagian dari harapan agar persalinan berjalan lancar.

Setelah anak lahir, ulos kembali diberikan sesuai fungsi dan maknanya. Dua jenis yang dikenal dalam konteks tersebut adalah Ulos Bintang Maratur dan Ulos Mangiring.

Bintang Maratur berkaitan dengan harapan agar kehidupan anak berjalan teratur, sedangkan Mangiring mengandung harapan akan kelahiran adik yang menyusul. Pemberian ulos dengan demikian bukan sekadar menyerahkan kain, melainkan juga menyampaikan doa dan harapan keluarga.

Dalam upacara pernikahan hingga kematian, jenis dan jumlah ulos yang diberikan mengikuti ketentuan adat serta kesepakatan keluarga. Thompson menjelaskan bahwa dalam tradisi Batak Toba, pihak parboru, hula-hula, atau tulang memiliki peran penting dalam pemberian ulos pada upacara adat tertentu.

Ulos yang digunakan dalam ritual dan upacara juga berfungsi sebagai pakaian formal tradisional. Makna pemberiannya berkaitan dengan hubungan kekerabatan, kedudukan pihak yang terlibat, serta penghormatan dalam pelaksanaan adat.

Makna ulos juga terlihat dari keragaman jenis dan motifnya. Penelitian berjudul Ciri Khas Suku Batak: Ulos Batak yang diterbitkan dalam Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 2026 menjelaskan bahwa ulos memiliki nilai simbolik yang berkaitan dengan kehormatan, status, kehangatan keluarga, dan identitas masyarakat Batak.

Penelitian juga menyoroti motif ulos yang beragam serta proses pembuatannya yang membutuhkan keterampilan menenun dan diwariskan secara turun-temurun. Ulos tidak hanya digunakan dalam upacara adat, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, seperti sebagai selendang, sarung, selimut, maupun hiasan rumah.

Karena setiap jenis memiliki fungsi dan makna tersendiri, pemahaman terhadap ulos tidak cukup hanya dengan mengenali motif atau warnanya. Pengetahuan tentang konteks adat dan cara penggunaannya juga menjadi bagian penting dari warisan tersebut.

Perkembangan industri turut mengubah cara ulos diproduksi dan digunakan. Menurut Thompson, ulos buatan mesin memiliki fungsi praktis karena harganya lebih murah dan proses produksinya lebih cepat. Produk tersebut juga banyak digunakan untuk pertunjukan seni dan cendera mata.

Ulos yang ditenun langsung oleh tangan partonun atau penenun memiliki nilai tersendiri karena proses pembuatannya berkaitan dengan keterampilan dan tradisi yang diwariskan.

Perubahan ini juga dibahas dalam penelitian Identifikasi Faktor Pergeseran Nilai Ulos sebagai Warisan Budaya Batak Modern yang diterbitkan dalam Engineering And Technology International Journal pada November 2025.

Penelitian menemukan teknologi menjadi faktor dengan persentase pengaruh terbesar dalam pergeseran nilai ulos, yakni 41 persen. Faktor nilai ekonomis tercatat 23,3 persen, edukasi 22,9 persen, dan budaya 12,7 persen.

Thompson menilai, perkembangan fungsi ulos sebagai ornamen, produk mode, dan bagian dari industri kreatif tidak dapat dilepaskan dari perubahan zaman. Namun, pemahaman terhadap makna tradisionalnya tetap penting agar ulos tidak hanya dipandang dari sisi penampilan atau nilai jual.

Ulos bukan sekadar kain dengan motif khas. Ia merekam perjalanan budaya masyarakat Batak, mulai dari kebutuhan menghangatkan tubuh hingga menjadi simbol kekerabatan, adat, dan identitas yang terus beradaptasi dengan kehidupan modern.

Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 4 dari 3


Simak Video "Video Pramono Diberi Ulos oleh HKI: Ini Kehormatan Bagi Saya"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads