Perjuangan Saut Nainggolan Lestarikan Aksara Batak Toba Lewat Live TikTok

Perjuangan Saut Nainggolan Lestarikan Aksara Batak Toba Lewat Live TikTok

Juita Sinuhaji - detikSumut
Sabtu, 18 Apr 2026 09:00 WIB
Saut Nainggolan, pelestari aksara Batak Toba lewat media sosial. (Dok Saut Nainggolan)
Foto: Saut Nainggolan, pelestari aksara Batak Toba lewat media sosial. (Dok Saut Nainggolan)
Medan -

Keberadaan orang-orang yang mampu memahami Aksara Batak Toba zaman sekarang tergolong sulit ditemukan. Namun, detikers tidak perlu risau karena bisa belajar dari Saut Nainggolan yang mengedukasi lewat live di media sosial khususnya TikTok.

Saut Nainggolan (72), mengajari para penontonnya Aksara Batak Toba di akun Tiktok @saut07_ dan YouTube @sautnainggolan. Uniknya, setiap live Saut kenakan peci dan ulos sebagai lambang kebanggaannya sebagai orang Batak Toba yang menghormati dan menjaga identitas diri.

Profil Saut Nainggolan

Pria Batak, bernama Saut Nainggolan ini lahir pada 10 Desember 1954 di Desa Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saut telah merantau dari kampung halamannya pada tahun 1979. Ia merantau lantaran lahan milik opungnya sedikit, sehingga tidak memungkinkan bertahan hidup di kampung halaman.

Saut merantau ke Pekanbaru, Riau dan tinggal hingga kini disana bersama keluarganya. Saut dikaruniai 6 orang anak, yakni 3 laki-laki, 3 perempuan dan sebanyak 12 orang cucu.

ADVERTISEMENT

Pria Batak asal Taput itu, mengaku hanya sebatas tamatan Sekolah Dasar (SD). Saut mengaku sejak dari kecil telah belajar tentang Aksara Batak Toba dan menyukainya.

"Aku hanya tamat sekolah dasar, dari kecil aku duluan diajari tulisan Aksara Batak Toba sebelum masuk sekolah rakyat. Jadi sudah mendarah daging Aksara Batak Toba dengan diriku," ucap Saut Nainggolan kepada detikSumut, Jumat (17/4/2026).

Saut juga mengatakan, ia menempuh pendidikan SD di kampung halamannya di Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Namun, ia tidak menyelesaikan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lantaran kondisi ekonomi yang sulit pada saat itu sehingga sekolahnya terputus.

"Saya sekolah SD di Pansur Natolu, Kecamatan Pangaribuan, sempat sekolah setingkat SMP tapi tidak tamat karena kami banyak kali bersaudara. Saya anak nomor 6 dari 12 bersaudara, kalau saya minta melanjut adek-adek tidak sekolah," ungkapnya.

Pria berkulit sawo matang itu, menceritakan dirinya rela tidak melanjutkan sekolah demi adik-adik dan ito-itonya yang sangat ingin melanjutkan pendidikan.

"Rela mengorbankan diri, karena kita sekeluarga banyak kebutuhan dan biaya untuk pendidikan. Jika saya minta sekolah, adek-adek tidak ada yang sekolah atau lanjut. Meskipun saya tidak tamat sekolah hingga selesai, yang penting saya paham Aksara Batak Toba," tuturnya.

Opung berusia 72 tahun itu, mengatakan awal mulanya ia belajar Aksara Batak Toba dari neneknya. Leluhurnya tersebut, seorang guru Aksara Batak Toba yang ditahbiskan oleh Belanda zaman itu.

Namun, leluhurnya tidak meninggalkan buku-buku sebagai warisan budaya, lantaran pada saat itu buku tidak begitu penting apalagi di huta-huta (kampung).

"Aku dulu belajar dari opungku (nenek), dia seorang guru yang ditahbiskan Belanda pada zaman itu. Opung itu dulu, mengajari aku Aksara Batak Toba tapi gimanlah dulu di huta - huta mana ada buku dikenal orang," ceritanya.

Meskipun Saut Nainggolan hanya tamat SD, ia juga mengajarkan Aksara Batak Toba kepada anaknya dan persis sama keahliannya dalam memahami. Namun, sang generasi yang telah dipersiapkan telah berpulang terlebih dahulu menghadap sang pencipta.

"Ada dulu anakku persis dengan ku yang menguasai Aksara Batak Toba tapi telah berpulang. Tidak berhenti di situ, cucuku juga kuajarkan tentang Aksara Batak Toba, namun, ia tidak terlalu mahir memahaminya," imbuhnya.

Perjuangan Saut Mengedukasi Aksara Batak Toba lewat Medsos

Setelah mencoba meneruskan Aksara Batak kepada generasinya, namun upaya tersebut masih kurang maksimal menurut Saut. Saut sangat berharap warisan leluhurnya tetap terjaga dan dipahami semua orang terkhusus orang Batak Toba.

Tidak berhenti di situ, ia juga mencari beberapa jejak orang Batak Toba yang memberikan pelajaran Aksara Batak Toba di berbagai sosial media. Namun, tidak ada yang memberikan keterangan yang jelas sehingga sulit untuk belajar dari dasar.

"Selama ini saya lihat di sosial media, tidak ada yang bisa mengajarkan peraturan, fungsinya dan pemahaman Aksara Batak Toba dengan jelas. Bahkan, tidak ada keterangan Aksara Batak Toba yang dibuat sehingga sulit diterima akal sehat," ungkapnya.

Melihat minimnya sosok yang memberikan keterangan serta mengajari dengan jelas, ia berniat untuk mengedukasi sekaligus mempertahankan warisan leluhur melalui live di sosial media.

"Pada tahun 2021 saya memulai mengedukasi Aksara Batak Toba melalui live di media sosial. Saya mencoba di dua aplikasi di YouTube dan Tiktok, namun paling ramai diaplikasi warna hitam tersebut," tambahnya.

Pria beruban itu, juga mengatakan ia selalu live 2 kali dalam seminggu. Durasi live tidak menentu, kadang lama lantaran banyak bertanya atau kadang tidak ramai.

"Live setiap Senin dan Kamis mulai pukul 19.30 WIB, durasi tergantung banyaknya yang bertanya dan berdiskusi di dalam live," imbuhnya.

Ketika live di sosmed, Saut mengatakan yang diajarkan yakni seputar Aksara Batak Toba, mulai dari huruf hingga cara membacanya. Saut mengatakan, untuk mempelajari dan memahami Aksara Batak Toba tidak lah muda bagi pemula.

"Saat ini, mempelajari Aksara Batak Toba sangatlah rumit kalau nggak tau dasarnya. Namun, kalau betul-betul dari dasar dan ada niat tinggi maka tidak ada yang payah," tegasnya.

Tidak hanya itu detikers, sangking dipersiapkan dengan baik, opung bercucu 12 itu selalu mengedukasi penonton dengan menjelaskan di papan tulis yang ia sediakan. Peralatannya juga lengkap dan pengajaran layaknya seorang guru mengajar muridnya di sekolah, padahal Saut hanya tamat SD.

"Waktu live selalu kita ajarkan Aksara Batak Toba, kita buat siapa mau bertanya lalu saya jawab. Kalau ada yang belum paham, saya akan mengajari lagi dan diingatkan juga untuk jangan malu-malu bertanya," tuturnya.

Zaman sekarang detikers, jarang kita temukan orang Batak Toba mampu dan sanggup mengajarkan Aksara Batak Toba. Bahkan, ketika tim detikSumut memantau live opung Saut Nainggolan di TikTok, terlihat antusiasme penonton cukup tinggi dan banyak bertanya.

"Lumayan ramai penontonnya, namun ada beberapa yang berbahasa kurang enak didengar ketika live tapi nggah apalah kumaafkan. Kudoakan agar mereka itu segera bertobat," ujar Saut.

Selama 5 tahun lamanya berkarya di sosmed, Saut mengatakan ia menemukan hal-hal menarik. Selain itu, hatinya juga senang serta bangga sebagai pegiat yang melestarikan Aksara Batak Toba.

"Hal unik dari penonton, pernah ada yang bilang tidak ada yang mengajarkan Aksara Batak Toba seperti opung. Selain itu, penonton banyak juga memberikan koin," ucap Saut tertawa kecil.

Saut katakan, Aksara Batak Toba merupakan harta warisan titipan dari nenek leluhur. Maka harus diajarkan dan dilestarikan ke generasi penerus.

"Dengan mengedukasi saya dapat berbagi ilmu dari sosial media, Aksara Batak Toba titipan leluhur itu jangan sampai punah. Kabar baiknya, sudah keluar buku kita dan masih dalam perjalanan," tutur Saut.

Ia juga mengatakan bagi orang-orang yang belum memahami Aksara Batak Toba, dapat belajar dari buku yang telah dituliskan oleh Saut Nainggolan.

"Bagi yang belum paham betul Aksara Batak Toba, sudah ada buku kita yah. Kalian bisa belajar banyak hal tentang Aksara Batak Toba didalam buku itu," kata Saut.

Menutup ceritanya kepada tim detikSumut, Saut mengatakan di usia senjanya, ia sibuk mengedukasi agar ilmunya tidak hilang. Saut juga menyampaikan, pedoman hidupnya agar tetap teguh di perantauan.

"Dari kampung kita selalu diajari tabah menjalani hidup, jika cuek akan celaka jadi biar pun kita dinegeri orang, kita harus bertegur sapa di kampung orang," tandas Saut Nainggolan.

Untuk diketahui detikers, buku hasil karya Saut Nainggolan itu berjudul ' Manurat Dohot Manjaha Surat Batak Toba'. Bagi detikers yang mau mendalami Aksara Batak Toba, silakan pesan bukunya di akun TikTok Saut.

Itulah kisah pria Batak asal Taput yang merantau ke Pekanbaru, Riau. Saut Nainggolan hanya lulusan SD tetapi sosok teladan, ia mampu berdampingan dengan perkembangan zaman sehingga mengedukasi Aksara Batak Toba di sosial media.

Dengan umur yang tidak muda lagi, Saut menjadi contoh untuk orang muda jangan sampai kalah dalam berkarya.

Halaman 2 dari 2
(nkm/nkm)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads