Menangis ketika sedang merasa sedih merupakan hal yang wajar. Namun, tidak sedikit orang yang memilih menahan tangis dan memendam perasaannya hingga merasa sesak, tertekan, bahkan stres.
Padahal, menangis bisa menjadi salah satu cara tubuh untuk melepaskan emosi yang sedang dirasakan. Lalu, benarkah menangis bisa mencegah pertumbuhan kanker di dalam tubuh? Atau sebenarnya, apa hubungan antara emosi, stres, dan kesehatan tubuh?
Menangis merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi kesedihan, tekanan, atau emosi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Air mata yang keluar dapat menjadi salah satu bentuk pelepasan emosi setelah seseorang mengalami tekanan. Karena itu, menangis bukanlah sesuatu yang perlu dianggap sebagai kelemahan. Dalam kondisi tertentu, membiarkan diri menangis justru dapat membantu seseorang merasa lebih lega setelah menghadapi situasi yang berat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hubungan antara kondisi emosional dan kesehatan tubuh juga dibahas dalam bidang psikoneuroimunologi, yaitu ilmu yang mempelajari hubungan antara pikiran, emosi, sistem saraf, dan sistem kekebalan tubuh. Bidang ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis seseorang dapat berhubungan dengan cara tubuh merespons stres dan menjalankan berbagai fungsi, termasuk sistem kekebalan tubuh.
Penelitian Ad Vingerhoets dan Lauren Bylsma dalam jurnal Crying and Health: Popular and Scientific Conceptions menemukan bahwa lebih dari setengah responden, yaitu sekitar 51,4 persen, merasa suasana hati mereka menjadi lebih baik setelah menangis. Hal ini menunjukkan bahwa menangis pada sebagian orang dapat memberikan rasa lega secara emosional, meskipun respons setiap orang terhadap tangisan tentu berbeda.
Meski begitu, manfaat menangis terhadap kesehatan fisik masih belum memiliki kesimpulan yang benar-benar pasti. Sejumlah penelitian memang menemukan adanya kemungkinan hubungan antara menangis, berkurangnya respons stres dan kondisi emosional. Namun, hal ini tidak berarti bahwa menangis secara langsung dapat menyembuhkan atau mencegah penyakit tertentu.
Begitu juga dengan kanker. Belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa menangis dapat mencegah seseorang terkena kanker. Jadi, menangis tidak bisa dianggap sebagai cara untuk mencegah pertumbuhan sel kanker. Hubungan yang lebih masuk akal untuk dibahas adalah bagaimana kondisi stres dan kesehatan mental dapat berpengaruh terhadap kesehatan tubuh, bukan bahwa menahan tangis secara langsung menyebabkan kanker.
Karena itu, ketika sedang menghadapi tekanan, seseorang tidak perlu merasa malu untuk menangis. Setelah menangis, tubuh dan pikiran mungkin terasa sedikit lebih ringan sehingga seseorang dapat memiliki ruang untuk menenangkan diri dan kembali menghadapi masalah dengan lebih baik. Namun, jika rasa sedih atau stres terus berlangsung dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari dukungan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional juga merupakan langkah yang baik.
Menangis bukanlah obat untuk segala masalah, apalagi cara untuk mencegah kanker. Namun, menangis dapat menjadi salah satu bentuk respons alami tubuh ketika menghadapi emosi yang berat. Jadi, tidak apa-apa untuk menangis ketika memang ingin menangis. Yang terpenting bukan sekadar mengeluarkan air mata, tetapi juga memberikan kesempatan bagi diri sendiri untuk memahami, mengelola, dan menghadapi emosi dengan cara yang sehat.
Artikel ditulis Yuni mahasiswi PKL Unimed di detikcom
Simak Video "Video: Rumah Singgah Yayasan Kita Peduli, Tempat Pasien Kanker Menenun Harapan"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
