Kondisi Otak Pria yang Sering Nonton TV Menurut Studi

Kondisi Otak Pria yang Sering Nonton TV Menurut Studi

Suci Risanti Rahmadania - detikSumut
Selasa, 28 Jul 2026 07:30 WIB
ilustrasi nonton TV
Foto: ilustrasi/thinkstock
Medan -

Menonton televisi sering dianggap sebagai cara sederhana untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas. Namun, kebiasaan duduk berlama-lama di depan layar ternyata tak hanya berkaitan dengan kurangnya aktivitas fisik, tetapi juga dapat dikaitkan dengan kondisi otak.

Sebuah studi menyoroti bagaimana kebiasaan menonton TV dalam durasi panjang berhubungan dengan perubahan tertentu pada kesehatan otak pria. Temuan ini pun menjadi pengingat bahwa waktu bersantai di depan layar tetap perlu diimbangi dengan aktivitas yang membuat tubuh dan pikiran tetap aktif.

Dikutip detikHealth dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alzheimer's and Dementia: Journal of the Alzheimer's Association ini melibatkan lebih dari 1.700 orang dewasa yang diikuti selama hampir 24 tahun. Hasilnya menunjukkan, pria yang sering menonton TV saat usia paruh baya, tetapi tidak pada wanita, memiliki volume otak yang lebih kecil di area yang rentan mengalami perubahan akibat penyakit Alzheimer.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka juga memiliki lebih banyak kerusakan pada otak yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan demensia. Sebaliknya, orang yang pekerjaannya mengharuskan duduk dalam waktu lama justru cenderung memiliki kondisi otak yang terlihat lebih sehat.

Menariknya, ketika peneliti memperhitungkan perbedaan tingkat aktivitas fisik secara keseluruhan, hasil penelitian tersebut tidak berubah. Artinya, aktivitas olahraga tidak mempengaruhi temuan tersebut.

ADVERTISEMENT

Perbedaan berdasarkan jenis kelamin ini cukup mengejutkan para peneliti. "Kami menemukan bahwa hubungan antara menonton TV dan struktur otak jauh lebih kuat pada pria dibandingkan wanita," kata Natan Feter, ilmuwan biologi dari University of Southern California, kepada ScienceAlert.

Menurutnya, hal ini mungkin terjadi karena pria dan wanita memiliki pola waktu sedentari yang berbeda. Misalnya, wanita mungkin lebih sering menyelingi waktu duduk dengan aktivitas lain. Kemungkinan lainnya adalah adanya perbedaan biologis dalam cara otak pria dan wanita merespons perilaku sedentari dalam waktu lama.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa wanita cenderung menonton program televisi dalam durasi yang lebih singkat, meski secara keseluruhan mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton TV. Sementara itu, pria lebih sering menonton olahraga dan film yang memungkinkan mereka duduk dalam waktu lama tanpa jeda.

Perbedaan hormon, gaya hidup seperti tanggung jawab mengasuh anak, atau perbedaan proses penuaan otak antara pria dan wanita juga mungkin berperan.

"Selama bertahun-tahun, kita berfokus pada seberapa lama seseorang duduk. Temuan kami menunjukkan bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang dilakukan seseorang saat duduk," kata David Raichlen, ahli biologi dari University of Southern California.

Data penelitian ini berasal dari 1.712 peserta dalam studi jangka panjang Atherosclerosis Risk in Communities (ARIC).

Para peserta yang berusia sekitar 50 tahun ketika mengikuti penelitian pada akhir 1980-an diminta melaporkan seberapa sering mereka menonton TV saat waktu luang dan berapa lama mereka duduk saat bekerja.

Sekitar 24 tahun kemudian, ketika peserta berusia pertengahan 70-an, kondisi otak mereka diperiksa menggunakan pemindaian MRI.

Peneliti secara khusus melihat area otak yang diketahui mengalami perubahan awal pada penyakit Alzheimer dan demensia terkait. Mereka juga mengamati volume white matter hyperintensities (WMH), yaitu area kerusakan pada materi putih otak yang menjadi penanda penyakit pembuluh darah kecil di otak dan berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif serta risiko demensia.

Dibandingkan dengan peserta yang mengaku "sangat sering" menonton TV, orang yang mengatakan bahwa mereka "selalu" duduk saat bekerja justru memiliki lebih sedikit lesi materi putih serta volume yang lebih besar pada bagian korteks frontal, parietal, dan oksipital otak.

Temuan ini menunjukkan bahwa duduk dalam waktu lama tidak selalu berkaitan dengan kesehatan otak yang lebih buruk. Dampaknya tampaknya bergantung pada aktivitas yang dilakukan selama duduk.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video: Pria Bawa Shotgun Ditangkap saat Lari ke Arah Gedung Capitol AS"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads