Penyakit jantung tidak hanya mengancam kelompok lanjut usia. Pola hidup modern yang diwarnai stres, kurang tidur, pola makan tidak sehat, dan minim aktivitas fisik membuat risiko gangguan jantung juga meningkat pada usia produktif.
Salah satu gejala yang sering diabaikan adalah nyeri dada. Keluhan ini kerap dianggap sebagai dampak kelelahan, gangguan lambung, atau nyeri otot, padahal dalam kondisi tertentu bisa menjadi tanda adanya masalah pada jantung yang memerlukan pemeriksaan medis.
Dokter Spesialis Jantung dari Mayapada Hospital Surabaya, dr. Jeffrey D. Adipranoto, Sp. JP (K), FIHA, FESC, FSCAI, mengatakan nyeri dada pada usia muda tetap perlu mendapat perhatian karena penyebabnya bisa bermacam-macam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nyeri dada yang muncul saat aktivitas, terjadi berulang, atau disertai gejala seperti sesak dan keringat dingin perlu diperiksa lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya secara tepat dan menentukan langkah penanganan yang sesuai," jelas dr. Jeffrey dalam keterangan tertulis, dilansir detikHealth, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, nyeri dada akibat gangguan jantung umumnya terasa seperti dada ditekan atau tertindih beban berat di bagian tengah dada. Rasa nyeri tersebut dapat menjalar ke bahu, lengan, leher, rahang, punggung, hingga ulu hati.
Gejala lain yang patut diwaspadai meliputi sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, pingsan, serta jantung berdebar kencang.
Dr. Jeffrey menjelaskan nyeri akibat gangguan jantung memiliki karakteristik yang berbeda dengan nyeri otot maupun gangguan lambung. Nyeri otot biasanya berubah ketika tubuh bergerak atau saat bagian dada ditekan, sedangkan nyeri lambung umumnya berkaitan dengan makanan atau disertai sensasi panas di dada. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
"Risiko penyakit jantung pada usia muda tidak hanya dipengaruhi oleh faktor usia, tetapi juga berbagai faktor risiko yang sering kali berkembang tanpa disadari. Kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kurang aktivitas fisik, hingga riwayat keluarga dengan penyakit jantung dini perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan jantung," tambah dr. Jeffrey.
Ia menambahkan, sejumlah penyakit jantung dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang khas. Oleh sebab itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi bertambah parah dan mengurangi risiko komplikasi.
