Bangka Belitung memiliki tradisi unik menyambut Ramadhan yang bernama mandi belimau.Tradisi ini merupakan ritual memandikan diri menggunakan air yang dicampurkan limau atau jeruk nipis.
Mandi Belimau diartikan sebagai cara untuk mensucikan diri lahir dan batin sebelum menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Hal ini menjadi simbol pembersihan diri maupun dosan, serta mempersiapkan hati dengan maksimal.
Penasaran dengan fakta di balik keunikan tradisi mandi belimau di Bangka Belitung? Berikut detikSumbagsel telah rangkum apa saja fakta unik dari tradisbelimau yang ada di Bangka Belitung!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejarah Tradisi Belimau di Bangka Belitung
Dilansir jurnal Makna Simbolik Tradisi Mandi Belimau di Desa Kimak, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka yang di tulis oleh Amirah Tsania Khansa dan Shakira Mahendra Putri, tradisi belimau telah berlangsung selama 300 tahun.
Tradisi ini menjadi warisan budaya bagi masyarakat yang diperkenalkan oleh Depati Bahri. Pelaksanaannya dilakukan setiap tahun menjelang bulan Ramadhan dengan tujuan untuk penyucian diri.
Rangkaian dan Fakta Unik Tradisi Belimau
Dilansir laman Serumpun Provinsi Babel, upacara adat mandi belimau termasuk salah satu aset budaya yang mempunyai rangkaian pelaksanaan. Ritual ini diawali dengan berziarah ke makam tokoh masyarakat khususnya makam Depati Bahri di Desa Limbung.
Kemudian, masyarakat pergi menuju pemandian yang berada di sungai Jada Bahrin. Acara pemandian akan dipimpin langsung oleh keturunan dari Bupati Bahri.
Terdapat fakta unik di balik unsur yang dipakai saat ritual mandi. Unsur tersebut dari tujuh jenis wewangian dari campuran tujuh rupa bunga dan bahan ramuan seperti :
- Limau parut
- Daun pandan
- Bunga rampai
- Akar-akaran
Hal ini dipercaya sebagai simbol mensucikan tujuh lubang atau lubang panca indera dan 2 lubang lainnya. Selain itu, fakta uniknya adalah air yang dipakai untuk mandi didoakan terlebih dahulu. Itu melambangkan kesucian dan berkah.
Kemudian, penggunaan angka tujuh dalam setiap bahan mencerminkan kesempurnaan spiritual, sedangkan jeruk nipis sebagai simbol pembersihan fisik dan spiritual.
Pelaksanaan Mandi Belimau
Mandi belimau dimulai dari telapak tangan hingga seluruh tubuh. Hal itu menjadi salah satu bentuk gambaran tahapan penyucian. Tradisi ini bersifat inklusif tanpa memandang agama, suku, maupun usia.
Setelah melakukan pembersihan simbolis dengan air limau, diakhiri dengan kegiatan gotong-royong atau festival kecil sebagai bentuk menjalin silaturahmi antar golongan masyarakat.
Keterkaitan ritual dengan makam leluhur ini membuat Mandi Belimau di Bangka bukan semata praktik religius, tetapi juga manifestasi identitas sejarah setempat.
Demikian rangkuman dan fakta unik dari tradisi belimau di Bangka Belitung saat menyambut bulan suci Ramadhan. Semoga bermanfaat, ya.
(mep/mep)











































