Mendengar kata Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tentunya akan tergambar dengan horornya sel besi yang membatasi ruang gerak narapidana di dalamnya. Namun saat melangkah masuk ke dalam Lapas Perempuan Kelas II A Palembang itu, ternyata ada banyak kegiatan positif yang menjadi harapan baru bagi narapidana di sana.
Tak sekadar wastra, hidroponik, ataupun roti, tempe juga menjadi salah satu produk yang dihasilkan dari lapas tersebut. Bahkan, produk turunan tempe seperti keripik tempe juga diproduksi di lapas tersebut.
Kesibukan produksi tempe ini tergambar jelas saat awak media mengunjungi lapas perempuan tersebut. Di salah satu ruangan, sederet peralatan dan perlengkapan dapur terjejer rapi. Ada karung-karung berisi kedelai, mesin penggiling kedelai, rak-rak peragian, kompor, alat sealer plastik tempe hingga baskom-baskom besar.
Tepat di ruangan tersebut, sekitar lima orang narapidana perempuan sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Satu orang sibuk mencuci kedelai dalam baskom besar, dua orang dengan telaten menggiling biji-biji kedelai, sementara yang lain mempersiapkan rak peragian dan bungkus tempe.
"Ini rutinitas kita setiap hari. Kami membuat tempe menggunakan kedelai yang dipasok dari luar. Sebelum diproduksi, kualitas kedelai kita cek terlebih dulu, baru kita cuci bersih dan kemudian diolah," kata RA, salah satu narapidana saat ditemui di lokasi, Kamis (29/10/2026).
RA mengaku tidak memiliki keterampilan atau pengalaman membuat tempe saat masih menghirup udara bebas. Kemampuan membuat tempe ini berasal dari pelatihan yang didapatnya selama dia menjadi penghuni di lapas tersebut.
Alih-alih terpuruk karena tidak bergerak bebas di dalam jeruji besi, RA menguatkan tekadnya untuk mengembangkan keterampilan diri untuk bisa lebih produktif.
"Di sini, banyak belajar dari pelatihan-pelatihan yang diberikan para pegawai lapas maupun dari pihak luar lewat program pemberdayaan perempuan. Saya mendalami proses pembuatan tempe, awalnya sulit beradaptasi dengan kedelai dan peralatan-peralatan yang ada, namun secara berangsur-angsur mulai memahami dan akhirnya terampil," kata RA.
Dari sini juga, ia akhirnya mengerti cara memilih kedelai yang tepat, membentuk tempe sesuai takaran, membuat peragian hingga menjadi tempe mentah. Lalu juga mengolah tempe mentah menjadi keripik tempe.
"Tidak mudah awalnya, tapi lama-lama terbiasa. Modal pelatihan dan keterampilan ini bisa saya adaptasi nantinya jika keluar dari lapas," tekad RA.
RA mengaku untuk proses produksi memang tidak singkat, membutuhkan waktu yang panjang. Sebab, untuk menjadi tempe yang berkualitas dan sesuai dengan kualitas yang diinginkan, tempe harus melewati proses peragian yang cukup lama, bahkan berhari-hari.
Dalam kesehariannya, RA mengaku pihak lapas selalu memberi target kepada semua warga binaan atas jumlah tempe yang diproduksi. Target ini, kata RA, tidak dianggap sebagai beban. Karena dari target tersebut, mereka bisa memiliki tanggungjawab terhadap kinerjanya masing-masing.
"Senangnya itu, di sini bisa belajar, dan mengambil ilmu serta membiasakan diri untuk membuat dan mengolah tempe. Selain ilmu dan kemampuan, kami juga bisa mendapat keuntungan berupa pembagian komisi dari setiap tempe yang berhasil dipasarkan. Uangnya bisa ditabung untuk bekal saat keluar dari lapas ini," kata dia.
RA juga mengaku puas dengan hasil kinerjanya selama ini dalam proses pembuatan dan pengolahan tempe di lapas tersebut.
"Saya selalu senang jika tempe sudah jadi. Sesuai pesanan dan layak jual, apalagi konsumen suka. Ada kebanggaan tersendiri. Saya berharap dan berdoa, nantinya keluar dari sini (lapas), saya bisa membuka usaha kecil di luar sana, dan menjadi pengusaha tempe dan keripik tempe," kata dia.
Kepala LPP Kelas II A Palembang Desi Andriyani menjelaskan, program pemberdayaan untuk warga binaan telah dilaksanakan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian yang merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi Lapas Perempuan Palembang, Program pemberdayaan ini sudah dilaksanakan sejak Lapas Perempuan Palembang berdiri pada tahun 2008.
Program pemberdayaan perempuan ini terus berkembang setiap tahunnya dengan bantuan sinergi dari berbagai mitra stakeholder. Menurutnya, hal ini menyelaraskan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI dan Program Akselerasi Menteri IMIPAS khususnya di bidang Ketahanan Pangan.
Lapas Perempuan Palembang terus berupaya mengembangkan program kegiatan kerja produksi agar dapat mewujudkan mandiri pangan di Lapas Perempuan Palembang.
"Khusus untuk pembuatan dan pengolahan tempe, sudah dimulai sejak bulan Februari 2025. Pembuatan tempe yang merupakan salah satu produk pangan harian yang tinggi nutrisi dan dapat diolah secara rumahan serta dengan proses produksi yang mudah dipahami, membuat produksi tempe ini menjadi pilihan bagi Lapas Perempuan Palembang untuk mewujudkan Ketahanan Pangan di Lapas Perempuan Palembang," jelas Desi.
Simak Video "Pemerintah dan BI Luncurkan GPIPS untuk Ketahanan Pangan Nasional"
(dai/csb)