Tempe merupakan salah satu pangan yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Makanan berbahan dasar kedelai ini hadir di meja makan dalam berbagai bentuk, mulai dari tempe goreng, orek, bacem, mendoan, hingga keripik.
Di Bandung dan kawasan sekitarnya, tempe tidak hanya dibuat oleh industri besar, tetapi juga oleh perajin rumahan yang mempertahankan proses produksi secara turun-temurun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberadaan sentra perajin tempe membuat proses pengolahan kedelai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Dari gang sempit, dapur produksi, hingga rumah tempe dengan standar higienis, setiap kawasan memiliki karakter tersendiri. Berikut lima sentra perajin tempe yang dikenal di wilayah Bandung Raya.
1. Kawasan Strategis Kota (KSK) Cibuntu
Berbicara mengenai olahan kedelai di Kota Kembang, ingatan kolektif masyarakat pasti langsung tertuju pada kawasan Cibuntu. Secara administratif, wilayah sentra ini berlokasi di sekitar Jalan Aki Padma dan Jalan Terusan Holis, masuk ke dalam Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.
Kawasan legendaris ini telah dikukuhkan dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung sebagai salah satu Kawasan Strategis Kota (KSK) khusus untuk Sentra Tahu dan Tempe Cibuntu.
Aktivitas produksi olahan kedelai di perkampungan padat ini telah berlangsung secara turun-temurun sejak era 1950-an. Menariknya, di lokasi ini pula berdiri kantor pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kota Bandung yang menaungi ratusan perajin aktif.
Wangi khas rebusan kedelai dan kepulan asap dari tungku-tungku produksi menjadi pemandangan harian yang lumrah di sini. Mayoritas tempe segar hasil produksi Babakan Ciparay langsung didistribusikan secara masif untuk memenuhi lapak-lapak sayur di pasar induk regional seperti Pasar Ciroyom dan Pasar Caringin.
2. Kampung Tempe Cikarees
Menyeberang ke arah selatan menuju wilayah administratif Kabupaten Bandung, kita akan menemukan Kampung Cikarees yang terletak di wilayah RW 21, Kecamatan Baleendah. Wilayah urban yang padat penduduk di dekat bantaran Sungai Citarum ini sudah lama dikenal sebagai kampung perajin tempe tradisional.
Industri rumahan di Cikarees tumbuh secara swadaya dan berkelompok. Warga memanfaatkan area belakang rumah mereka sebagai tempat perendaman, pengupasan kulit ari kedelai, hingga proses pembungkusan menggunakan daun pisang maupun plastik.
Pasokan tempe dari Kampung Cikarees memegang peranan vital dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di pasar-pasar rakyat wilayah Bandung Selatan, terutama Pasar Baleendah dan Pasar Banjaran.
3. Sentra Modern Cipanileuman, Tegalluar
Perkembangan infrastruktur di timur Bandung rupanya berjalan beriringan dengan modernisasi industri pangan lokalnya. Di kawasan Cipanileuman, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang yang posisinya tidak jauh dari area stasiun kereta cepat kini tumbuh menjadi basis produksi tempe berskala menengah yang dikelola secara modern. Salah satu entitas usaha yang menonjol di kawasan ini adalah produsen Tempe Padasuka.
Berbeda dengan industri rumahan konvensional yang kerap terkendala masalah higienitas tempat, rumah produksi di kawasan Tegalluar ini mengedepankan standardisasi pengolahan pangan yang bersih dengan penggunaan air bersih terfiltrasi serta ruangan fermentasi bersuhu konstan terkendali.
Langkah modernisasi ini membuat produk tempe asal Tegalluar berhasil menembus pasar modern, jaringan hotel, usaha katering skala besar, hingga ritel-ritel swalayan terkemuka di penjuru Bandung Raya.
4. Kawasan Penyangga Timur Cibiru Hilir & Cileunyi
Bergerak ke wilayah perbatasan timur yang mempertemukan Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Sumedang, wilayah Cibiru Hilir menjadi titik penting berikutnya dalam peta produksi protein nabati ini.
Kawasan ini dihuni oleh kluster perajin yang mayoritas merupakan perantau dari daerah Jawa Tengah yang membawa keahlian pembuatan tempe khas daerah asal mereka.
Keberadaan para pelaku UMKM tempe di lingkar Cibiru Hilir dan Cileunyi ini sangat strategis karena berada dekat dengan kawasan pendidikan Jatinangor. Konsumen utama mereka, selain masyarakat umum di ceruk Bandung Timur, adalah ribuan warung makan, warung tegal (warteg), serta usaha kuliner mahasiswa yang menjamur di sekitar kampus-kampus besar.
5. Koridor Pangan Higienis Katapang
Kecamatan Katapang, khususnya Desa Pangauban, Kabupaten Bandung, kini memegang peranan strategis sebagai salah satu pusat koridor pangan higienis dan produsen utama tempe modern untuk wilayah Bandung Raya.
Salah satu penggerak utama di koridor ini adalah Tempe Azaki Bandung yang beroperasi di Jalan Inspeksi Citarum, Kampung Bojong Buah, Desa Pangauban. Melalui integrasi kluster ini, para perajin lokal mendapatkan pembinaan intensif untuk meningkatkan mutu dan keamanan pangan demi memenuhi baku mutu industri ritel modern serta pasar ekspor.
Berbeda dengan metode industri tradisional, proses manufaktur di Koridor Pangan Higienis Katapang telah menerapkan mekanisasi terstandar. Produksi dimulai dari pemilihan kedelai kualitas premium, proses pengupasan kulit ari menggunakan mesin khusus, hingga sistem pengemasan yang higienis.
Untuk menjamin aspek keamanan konsumsi, komoditas dari kluster ini telah tersertifikasi secara resmi oleh BPOM, Sertifikasi Halal MUI, dan memenuhi standar HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).
Sertifikasi tersebut memastikan produk akhir memiliki karakteristik fisik yang padat, putih bersih, serta bebas dari kontaminasi mikroba patogen. Keunggulan mutu ini membuka penetrasi pasar yang luas bagi komoditas tempe asal Katapang, baik di sektor modern maupun tradisional.
Pada sektor pasar tradisional, rantai distribusi kluster Katapang secara konsisten menyuplai kebutuhan protein bagi sejumlah pasar induk dan pasar wilayah di Bandung Raya, meliputi Pasar Sayati, Pasar Junti, Pasar Rancamanyar, Cibaduyut, Tegallega, hingga Buah Batu.
Kehadiran Koridor Katapang ini secara signifikan memperkuat ekosistem produksi tempe regional, bersinergi dengan sentra-sentra produksi yang telah mapan sebelumnya seperti Babakan Ciparay (Kopti), Cileunyi, dan Kampung Cikarees di Baleendah.
