Lapas Perempuan Kelas II A Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) memproduksi 25 kilogram tempe setiap hari. Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan usaha.
"Alhamdulillah Warga Binaan (WB) di Lapas Perempuan Kelas II A Palembang mampu produksi 25 kilogram tempe setiap hari, program ini sudah lama dijalankan," kata Kepala LPP Kelas II A Palembang Desi Andriyani, kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).
Desi mengatakan produksi tempe bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Program tersebut merupakan bagian dari manufaktur yang dikelola secara profesional di dalam lapas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami ingin memastikan saat mereka bebas nanti, mereka punya keterampilan nyata. Tempe dipilih karena merupakan bahan pangan pokok dengan permintaan yang stabil," ujarnya.
Kata Desi, dalam sebulan tercatat total produksi bisa mencapai sekitar 750 kilogram. Namun, jumlah tersebut bersifat fleksibel karena menyesuaikan pesanan dari masyarakat.
"750 kilogram biasanya sebulan, pelatihan buat tempe juga terus dilakukan untuk WB yang baru," ungkapnya.
Hasil penjualan tempe dimanfaatkan untuk membantu memenuhi operasional dapur pembuatan tempe, seperti kebutuhan listrik dan air.
"Kami berharap program ini terus berkembang, baik dari sisi kapasitas produksi maupun inovasi produk olahan kedelai lainnya," tutupnya.
Program tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ruang tidak menghalangi warga binaan untuk tetap produktif. Melalui pembinaan yang berorientasi pada kemandirian, Lapas Perempuan Palembang optimistis para warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan dan semangat berwirausaha.
