Perum Bulog mengerahkan jajaran di seluruh Indonesia untuk turun ke pasar serentak, memastikan ketersediaan pasokan sekaligus menjaga harga beras dan kebutuhan pokok tetap terkendali. Bulog Sumsel dan Babel juga telah melaksanakannya lewat gerakan pangan murah atau operasi pasar (GPM/OP).
Pimpinan Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel Ihsan mengatakan kegiatan itu menjadi langkah konkret bulog memperkuat stabilisasi pangan, dengan memastikan kondisi pasar dipantau langsung dari lapangan. Sehingga, setiap potensi kenaikan harga maupun gangguan pasokan dapat diantisipasi dan ditangani sedini mungkin.
"Sejak 30 Agustus-5 September, Bulog Sumsel Babel sudah menyalurkan 34 ton untuk pelaksanaan GPM dan operasi pasar di 17 titik wilayah Kota Palembang dan Banyuasin. Setiap titik disiapkan 2 ton beras SPHP," ujarnya, Sabtu (5/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaksanaan GPM/OP juga akan digelar kembali di dua lokasi pada Minggu (6/9). Disiapkan 4 ton beras untuk pelaksanaan di kantor TVRI Sumsel dan Kelurahan Pipareja, Kemuning.
Sementara itu, dalam pelaksamaan OP serentak, kegiatan diawali dengan koordinasi nasional melalui video conference yang dipimpin Dirut Perum BULOG Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani bersama jajaran.
Dari pasar di wilayah masing-masing, jajaran bulog mengikuti koordinasi sekaligus melaksanakan monitoring dan OP secara bersamaan di berbagai daerah di Indonesia, untuk mengecek harga, ketersediaan komoditas, kelancaran distribusi, serta memastikan intervensi pangan berjalan efektif.
Langkah tersebut didukung oleh kondisi stok beras pemerintah yang kuat. Per 5 September 2026, stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola bulog tercatat sekitar 4,9 juta ton dan tersebar di jaringan pergudangan seluruh Indonesia.
Di sisi hilir, penyaluran beras SPHP hingga 5 September 2026 telah mencapai sekitar 756 ribu ton. Di Bulog Sumsel dan Babel, realisasi SPHP per 3 September 2026 sudah mencapai 27.704 ton.
Kekuatan stok dan besarnya realisasi penyaluran tersebut memberikan ruang yang memadai bagi bulog untuk terus melakukan intervensi pasar secara terukur dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras bagi masyarakat.
Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa pengawasan langsung ke pasar menjadi bagian penting dari langkah antisipatif bulog dalam menjaga stabilitas pangan.
"Kami mengantisipasi bukan hanya pengaduan, tetapi kami mengantisipasi akan kenaikan inflasi. Itu yang paling utama. Karena penugasan bulog yang paling utama adalah menjaga stabilisasi harga," ujar Ahmad Rizal saat melakukan monitoring pasar di Jatinegara dan Rawamangun, Jakarta, Sabtu (5/9).
Jajaran bulog juga mengecek harga dan ketersediaan beras di pasar untuk memastikan distribusi beras SPHP berjalan baik. Bulog juga mendorong penguatan pasokan beras premium serta komoditas pangan lainnya agar kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan harga yang wajar dan terjangkau.
Monitoring serentak dilakukan sebagai langkah preventif untuk merespons dinamika harga pangan secara cepat. Dalam pelaksanaannya, bulog berkolaborasi dengan satgas pangan, TNI, Polri, pemerintah daerah, pengelola pasar, dan lainnya.
Sinergi tersebut memungkinkan pengawasan dilakukan menyeluruh, mulai dari ketersediaan stok, distribusi hingga harga di tingkat konsumen, sehingga apabila ditemukan indikasi kenaikan harga yang tidak wajar dapat segera dilakukan langkah korektif di lapangan.
Untuk memperkuat pasokan di pasar, bulog juga telah berkoordinasi dengan jaringan ritel modern di seluruh Indonesia dan menyiapkan 110.000 ton beras dalam satu bulan. Terdiri dari 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium.
Pasokan akan disalurkan bertahap melalui jaringan ritel modern maupun pasar-pasar yang menjadi titik pemantauan harga pangan, sehingga masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap beras dengan harga yang kompetitif.
