Harga Cabai dan BBM Kompak Turun, Sumsel Catat Deflasi 0,24 Persen

Sumatera Selatan

Harga Cabai dan BBM Kompak Turun, Sumsel Catat Deflasi 0,24 Persen

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Senin, 03 Agu 2026 23:40 WIB
Ilustrasi cabai rawit dan tomat yang menyumbang inflasi Juli 2025
Foto: Ilustrasi cabai sebagai salah satu penyumbang inflasi (Aprilia Devi/detikJatim)
Palembang -

Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month to month) pada Juli 2026. Angka ini lebih dalam dibandingkan deflasi nasional yang sebesar 0,14 persen, dipicu turunnya harga sejumlah komoditas, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), cabai, bawang merah hingga emas.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan, penurunan harga berbagai komoditas menjadi faktor utama yang menekan laju inflasi di Sumsel selama Juli.

"Terjadi tarik-menarik harga komoditas. Ada jenis BBM yang mengalami kenaikan, tetapi ada juga yang turun. Dari sisi komposisi penggunaannya, kondisi itu ikut memengaruhi deflasi di Sumsel," kata Wahyu, Senin (3/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Wahyu, harga Dexlite turun dari Rp23.500 menjadi Rp 20.160 per liter, Pertamina Dex dari Rp 25.350 menjadi Rp 21.650 per liter, dan Pertamax Turbo dari Rp 21.500 menjadi Rp 19.750 per liter. Sementara Pertamax justru mengalami kenaikan dari Rp 15.300 menjadi Rp 16.650 per liter.

Selain BBM, harga emas perhiasan juga mengalami penurunan dibanding bulan sebelumnya. Selama Juli, harga emas bergerak fluktuatif dengan kisaran Rp 2.601.000 hingga Rp 2.670.000.

ADVERTISEMENT

Dari kelompok bahan pangan, harga cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan tomat ikut turun. Kondisi itu dipengaruhi melimpahnya pasokan dari daerah sentra produksi di Sumsel maupun pasokan dari provinsi lain.

"Meski demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan harga. Beras masih menjadi salah satu penyumbang inflasi karena mengalami kenaikan harga di tingkat petani maupun distributor," katanya.

Selain itu, momentum tahun ajaran baru juga mendorong naiknya pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pendidikan, seperti pembelian seragam, buku tulis, hingga biaya pendidikan, terutama pada jenjang TK dan SD.

"Pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan sekolah meningkat seiring dimulainya tahun ajaran baru," ujarnya.

Secara tahunan (year on year), Sumsel masih mencatat inflasi sebesar 2,50 persen. Komoditas seperti emas perhiasan, bensin, dan minyak goreng menjadi penyumbang utama inflasi tahunan.

BPS juga mencatat kondisi harga di setiap daerah berbeda. Dari empat wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, sedangkan Kota Lubuklinggau mencatat deflasi.

Wahyu menilai berbagai langkah pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah, seperti pelaksanaan pasar murah dan menjaga pasokan kebutuhan pokok, turut berkontribusi terhadap stabilitas harga di Sumsel.

"Upaya pengendalian inflasi yang konsisten dilakukan pemerintah daerah ikut menjaga stabilitas harga sehingga Sumsel mengalami deflasi," pungkasnya.



(dai/dai)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads