Jumlah titik panas atau hotspot di Sumatera Selatan (Sumsel) tersisa 3 titik pada Rabu (28/10/2026). Angka tersebut menjadi yang terendah sejak 22 Juli lalu, saat tidak ada hotspot yang terpantau di wilayah Sumsel.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan hotspot yang terdeteksi tersebut seluruhnya berada di wilayah Musi Rawas Utara. Sedangkan 16 kabupaten/kota lainnya di Sumsel nihil hotspot.
Minimnya jumlah titik panas tersebut dipengaruhi curah hujan yang terjadi hampir merata di seluruh wilayah Sumsel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hujan yang terjadi hampir merata di wilayah Sumsel berdampak pada minimnya jumlah hotspot. Berdasarkan laporan data Sipongi hanya terpantau 3 titik panas di wilayah Muratara," ujar Sudirman.
Angka itu jauh menurun dibandingkan beberapa hari sebelumnya yang berada di kisaran puluhan hingga ratusan titik. Namun, secara jumlah periode 1-28 Oktober menjadi yang tertinggi secara bulanan. Hotspot pada periode itu tercatat sebanyak 43.037 titik panas.
Di sisi lain, operasi modifikasi cuaca (OMC) pada Rabu (28/10) di Sumsel dilakukan sebanyak 7 sortie. Dari jumlah tersebut, 5 sortie dilakukan untuk penyemaian natrium klorida (NaCl) di wilayah Musi Banyuasin, Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Prabumulih, dan Ogan Komering Ilir (OKI).
"Sedangkan penyemaian dry ice dilakukan 2 sortie di wilayah Palembang," katanya.
Minimnya jumlah hotspot juga berdampak pada aktivitas pemantauan udara. Sebanyak lima helikopter water bombing (WB) tidak melakukan penerbangan. Selain itu, dua armada patroli udara juga tidak melaksanakan pemantauan di wilayah Sumsel.
"Meski jumlah hotspot menurun, pemantauan dan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap dilakukan," ungkapnya.
