Kualitas udara di Palembang masih berfluktuasi pada kategori sedang hingga tidak sehat pada Kamis (29/10/2026) pagi. Namun, kabut yang terpantau pagi hari bukan berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan, melainkan embun.
"Bukan asap, tapi kabut embun pagi. Sampai jam 7-an tadi masih terpantau," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, Kamis (29/10/2026).
Wandayantolis mengungkapkan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 sempat meningkat hingga menyentuh angka 62 µg/m³, sebelum kembali turun dan naik lagi ke level tidak sehat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pemantauan kualitas udara di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik BMKG, kategori sedang terpantau sejak pukul 00.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 38 µg/m³. Angka tersebut meningkat menjadi 42,2 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB.
Kualitas udara kemudian memburuk pada pukul 02.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 60,2 µg/m³. Satu jam berikutnya, angkanya tercatat sebesar 57,4 µg/m³ yang masih berada dalam kategori tidak sehat.
Pada pukul 04.00-05.00 WIB, kualitas udara kembali membaik ke kategori sedang dengan konsentrasi PM2.5 masing-masing sebesar 50,1 µg/m³ dan 45,1 µg/m³.
Namun, kondisi tersebut kembali berubah. Pada pukul 06.00 WIB, konsentrasi PM2.5 naik menjadi 62 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat. Angkanya kemudian turun menjadi 47,7 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB sebelum kembali meningkat ke level tidak sehat pada pukul 08.00 WIB dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 61,5 µg/m³.
"Angka PM2.5 fluktuatif pada kategori sedang hingga tidak sehat. Namun, secara rata-rata 24 jam terakhir berada di angka 53,7 µg/m³ atau level sedang," katanya.
Dia mengatakan tren kualitas udara di Palembang saat ini menunjukkan perbaikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap perubahan kualitas udara yang terjadi.
"Masyarakat diimbau untuk tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan sebagai langkah perlindungan terhadap paparan polusi udara," tukasnya.
