Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Selain memicu upaya pemadaman berulang, kebakaran tersebut mengancam habitat dan sumber pakan satwa liar, termasuk gajah Sumatera.
Humas Balai TNWK Riri Fitriandi mengatakan kebakaran terjadi di Grid 16L, wilayah Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I, pada Sabtu (24/10/2026). Titik api pertama terdeteksi sekitar pukul 11.00 WIB, sebelum api baru muncul pada sore hari di Grid 16K atau kawasan Rawa Harjo.
"Untuk yang di Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder, itu kejadiannya tanggal 24 Oktober kemarin. Itu terjadi sekitar pukul 11.00, kemudian muncul titik api baru di sore hari di Grid 16K," kata Riri, Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Riri, kebakaran di kedua lokasi tersebut berhasil dipadamkan pada hari berikutnya dengan bantuan hujan. Namun, petugas masih melakukan patroli dan pendinginan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Riri menjelaskan, asap sempat terpantau di Resort Cabang meski api di permukaan tidak terlihat. Kondisi itu diduga berkaitan dengan bara yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Petugas kemudian melakukan penyiraman dan mopping-up atau pendinginan untuk memastikan bara tidak kembali memicu kebakaran.
"Kalau untuk memastikan sepertinya memang belum. Namun, dengan patroli, selalu melakukan mopping-up atau pendinginan, dan deteksi dini melalui tiga tim besar dengan tiga posko besar di sana, itu cukup efektif," ujarnya.
Upaya pemadaman kembali dilakukan setelah petugas menerima laporan asap pada pukul 15.01 WIB. Tim gabungan langsung menuju lokasi dan berhasil menangani api dalam waktu kurang dari satu setengah jam.
Pemadaman melibatkan petugas tangki air, TNI, Polri, masyarakat, serta PT GGPHP. Meski api utama berhasil dikendalikan, petugas masih bersiaga karena menemukan sejumlah ranting yang menyala dan bara yang perlu didinginkan.
"Masih standby dan masih melakukan mopping-up atau pendinginan, karena ada beberapa ranting yang terlihat masih menyala, baranya masih terlihat," kata Riri.
Riri mengatakan kawasan yang terbakar merupakan area yang ditumbuhi alang-alang dan menjadi tempat hidup sekaligus mencari makan bagi satwa liar, terutama hewan pemakan rumput.
Kebakaran di kawasan tersebut berpotensi mengganggu ketersediaan pakan satwa yang bergantung pada vegetasi alami. Salah satu satwa yang menggunakan kawasan itu sebagai sumber pakan adalah gajah Sumatera.
"Prinsipnya memang semua tempat berkumpulnya hewan liar. Di situ juga ada alang-alang yang menjadi habitat dan tempat mencari makan hewan pemakan rumput, termasuk gajah," ujarnya.
Riri menyebut gajah berada jauh dari lokasi kebakaran saat wawancara dilakukan. Meski demikian, kebakaran tetap menjadi ancaman terhadap habitat dan ketersediaan pakan satwa di kawasan konservasi tersebut.
Hingga Selasa (27/10), belum tersedia data terbaru mengenai total luas lahan yang terbakar dalam rangkaian kejadian tersebut. Petugas gabungan masih melakukan patroli, penyisiran, penyiraman, dan pendinginan untuk mencegah bara kembali menyala.
