Erupsi Anak Krakatau Tak Terdeteksi Visual Selama 2 Hari, Ini Kata PVMBG

Lampung

Erupsi Anak Krakatau Tak Terdeteksi Visual Selama 2 Hari, Ini Kata PVMBG

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Selasa, 27 Okt 2026 21:09 WIB
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada 26 Oktober 2026
Foto: Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada 26 Oktober 2026 (Dok. PVMBG)
Lampung Selatan -

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali menjadi perhatian. Pemantauan visual gunung api tersebut terkendala selama dua hari terakhir akibat peralatan pengamatan yang tidak berfungsi optimal.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Deny Mardiono, membenarkan adanya erupsi pada Selasa (27/10/2026). Namun, petugas belum dapat memantau aktivitas gunung secara visual karena kamera pengawas atau CCTV tidak berfungsi.

Deny menjelaskan, gangguan terjadi karena panel surya dan kamera pengawas tertutup abu vulkanik. Kondisi tersebut membuat pengisian daya tidak optimal sehingga peralatan pemantauan tidak dapat beroperasi sebagaimana mestinya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ya, peralatan kami saat ini terkendala untuk memantau secara visual," katanya, Selasa (27/10).

"Dikarenakan tertutup abu vulkanik sehingga pengisian catu daya tidak optimal untuk menghidupkan peralatan," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Meski pemantauan visual terganggu, Deny memastikan peralatan seismik masih berfungsi. Berdasarkan rekaman kegempaan, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih didominasi tremor menerus.

Dalam laporan pengamatan periode pukul 12.00-18.00 WIB pada Selasa, gunung tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati. Kamera CCTV di lapangan juga dilaporkan tidak berfungsi akibat kendala panel surya dan tertutup abu vulkanik.

Pada periode tersebut, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 23 milimeter dan durasi 10 detik. Selain itu, terjadi dua kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 13-25 milimeter dan durasi 13-15 detik.

Sementara itu, tremor menerus terekam dengan amplitudo 2-30 milimeter, dengan amplitudo dominan 5 milimeter.

Gunung Anak Krakatau saat ini masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.

Petugas juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, serta erupsi sekunder akibat kontak lava panas dengan air laut maupun air hujan.

Di sisi lain, masyarakat pesisir Lampung dan Banten diminta tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan memicu tsunami. Warga diimbau mengikuti informasi resmi dan arahan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads