Asa Petugas Padamkan Karhutla di Sumsel demi Bertemu Keluarga

Sumatera Selatan

Asa Petugas Padamkan Karhutla di Sumsel demi Bertemu Keluarga

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Jumat, 23 Okt 2026 19:20 WIB
Memasuki puncak musim kemarau, APP Sinar Mas menyiapkan sejumlah strategi menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar dan wilayah konsesi. Seperti apa?
Foto: Ilustrasi petugas pemadam kebakaran yang ditugaskan di Sumsel (Rachman Haryanto)
OKI -

Di tengah penugasan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa berlangsung berminggu-minggu, ada keluarga yang menanti was-was di rumah. Kabar mereka selalu dinanti anak, istri, orang tua, dan kerabat. Terkadang petugas juga melewatkan momen berharga demi tugas memadamkan api.

Bagi Tamara Septriani, istri dari Dimas Pradinata (32) yang merupakan Forest Management (FM) Distrik Bagan Rame, PT Bumi Andalas Permai, salah satu situasi paling berat ketika suaminya bertugas memadamkan karhutla adalah menjawab pertanyaan anak.

"Yang paling berat adalah ketika anak bertanya kapan papa bisa pulang? Kapan bisa jalan-jalan bersama papa? Biasanya ada suami yang membantu dan menjadi tempat bercerita, tetapi ketika beliau bertugas, saya harus mengurus semuanya sendiri, termasuk menjaga dan mendampingi anak," ujar Tamara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya pertanyaan sederhana itu tidak selalu mudah dijawab, terutama ketika pekerjaan suaminya belum memungkinkan untuk kembali ke rumah. Kondisi itu telah dilaluinya selama 12 tahun. Tamara pun telah memahami konsekuensi pekerjaan tersebut, bahkan sejak sebelum mereka menikah.

Salah satu momen yang membekas baginya adalah ketika mereka harus berjauhan pada hari ulang tahun. Saat orang lain merayakannya bersama keluarga, mereka harus menerima kenyataan bahwa pekerjaan belum memungkinkan suaminya berada di rumah.

ADVERTISEMENT

"Di hari ulang tahun, di saat semua orang ingin merayakan, di sisi lain kami harus berjauhan," katanya.

Tamara berusaha menjelaskan kepada anak, bahwa ayahnya sedang bekerja membantu memadamkan kebakaran. Ia juga mengajak anak berdoa agar Dimas selalu diberikan kesehatan dan keselamatan. Meski demikian, ada saat-saat ketika anak belum dapat memahami mengapa ayahnya sulit dihubungi.

Menurut Tamara, komunikasi yang terputus bukan sesuatu yang baru dalam pekerjaan suaminya. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan tersebut, ia mulai terbiasa. Namun, bagi anak mereka, tidak dapat menghubungi ayah tetap menjadi persoalan yang sulit dimengerti.

Bagi Tamara, yang paling penting bukanlah seberapa cepat Dimas menyelesaikan pekerjaan, melainkan bagaimana suaminya dapat menjalankan tugas dengan baik tanpa mengabaikan kesehatan dan keselamatan. Ia menghargai tanggung jawab yang telah dijalankan Dimas dan berharap mereka tetap memiliki banyak kesempatan untuk menikmati kehidupan keluarga.

"Saya ingin mengucapkan terima kasih yang banyak kepada suami karena sudah mampu bertahan sampai sejauh ini. Kami mungkin tidak mendampingi dan melihat dirimu saat bekerja, tapi percayalah doa kami selalu menyertaimu," ujarnya.

Tamara juga memiliki satu pesan yang ingin selalu diingat suaminya.

"Jangan lupa jaga kesehatan dan keselamatanmu. Tidak ada hal yang lebih penting kecuali kepulanganmu di sini. Kami selalu menunggu kehadiranmu," katanya.

Sementara bagi Dimas, dia mengaku di lapangan memiliki tanggung jawab tidak ringan. Selama belasan tahun bekerja dalam penanganan karhutla, salah satu tantangan terbesarnya adalah mengatur personel dan memastikan setiap tim menjalankan tugas dengan baik hingga api benar-benar padam.

Menurutnya, keberhasilan pemadaman tidak hanya bergantung pada kemampuan menghadapi api. Kondisi medan yang sulit, koordinasi antaranggota tim, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi faktor penting dalam setiap operasi.

"Pengalaman paling berat adalah setiap pemadaman harus mengatur personel dan masing-masing tim agar tujuan yang ingin kita dapatkan, yaitu api padam total, berjalan dengan lancar," kata Dimas.

Di tengah tanggung jawab tersebut, Dimas mengaku selalu berusaha menjaga semangat dengan mengingat tujuan awalnya bekerja. Keluarga, mulai dari orang tua, istri, hingga anak, menjadi alasan untuk terus menjalankan pekerjaan meskipun harus berjauhan.

Ia bersyukur keluarganya memahami tuntutan pekerjaannya. Istrinya sudah mengetahui bahwa ketika Dimas tidak dapat dihubungi, kemungkinan besar ia sedang berada di lokasi pemadaman. Dia juga mengaku tidak pernah merasa takut tidak dapat kembali pulang selama menjalankan tugas. Ia memilih berpegang pada keyakinan bahwa niat baik, doa, dan kehati-hatian akan menyertai pekerjaannya.

Bagi Dimas, salah satu momen paling membahagiakan bukan sekadar ketika api berhasil dipadamkan, melainkan ketika seluruh anggota tim dapat menyelesaikan pekerjaan dengan selamat.

"Saat api padam total, tim semua selamat dan sehat, peralatan pemadam lengkap, dan seluruh tim bisa pulang bersama-sama," ungkapnya.

"Yang paling saya rindukan adalah pelukan anak saya, kumpul bersama keluarga kecil saya. Pertama kali saya pulang akan peluk anak istri, dan makan masakan istri bersama keluarga," sambungnya.

Sebulan Lebih Tanpa Kabar

Kisah keluarga Dimas memiliki kesamaan dengan pengalaman Qodri Alfin Syahri (27), anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT SBA Wood Industries, Distrik Kuala Lumpur. Selama dua tahun bekerja sebagai petugas pemadam karhutla, Qodri telah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari asap pekat hingga kondisi angin yang sulit diperkirakan.

Menurut Qodri, perubahan arah angin merupakan salah satu risiko yang harus diwaspadai. Ia juga pernah menghadapi kondisi asap sangat pekat ketika perlindungan diri yang tersedia dirasakannya belum memadai.

Meski demikian, Qodri berusaha menjalankan pekerjaannya dengan mengacu pada prosedur operasional dan mengutamakan keselamatan. Baginya, tanggung jawab terhadap pekerjaan menjadi alasan untuk tetap bertahan ketika tubuh mulai lelah.

"Yang pasti berat, tetapi namanya menjalankan tugas, kita tetap harus meninggalkan keluarga demi menjaga langit tetap biru dan udara tetap segar," tuturnya.

Di rumah, M Syahri (53), ayah Qodri, memahami bahwa pekerjaan putranya mengandung risiko. Ada rasa sedih ketika Qodri harus meninggalkan keluarga selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Namun, ia juga bangga karena anaknya menjalankan pekerjaan yang bermanfaat bagi orang lain.

Salah satu pengalaman paling berat bagi Syahri adalah ketika ia tidak dapat menghubungi putranya lebih dari sebulan akibat kendala jaringan seluler. Dalam kurun waktu tersebut, ia tidak mengetahui secara langsung bagaimana keadaan Qodri di lokasi penugasan.

"Pernah, ketika anak saya terkendala jaringan seluler selama satu bulan lebih. Di situ saya merasa khawatir dan selalu berdoa semoga selalu dalam lindungan Allah SWT," ungkap Syahri.

Sebagai orang tua, Syahri menyadari bahwa ia tidak selalu dapat mendampingi anaknya. Setiap kali Qodri berangkat bertugas, ia hanya dapat memberikan nasihat dan mendoakan keselamatannya.

Bagi Qodri sendiri, kepulangan memiliki makna yang sederhana. Setelah berhari-hari bekerja jauh dari keluarga, hal yang paling ingin dilakukannya adalah bertemu orang tua dan mencium tangan mereka.

"Rindu ketika melihat orang tua, mencium kedua tangan kedua orang tua," katanya.

Syahri mengaku selalu merasa senang sekaligus terharu ketika Qodri akhirnya kembali, meskipun dalam keadaan lelah. Ia hanya berpesan agar putranya tidak melupakan salat dan doa selama menjalankan tugas.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video Situasi Karhutla Terkini: Titik Api di Kalimantan Naik, Sumatera Turun"
[Gambas:Video 20detik] (dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads