Komitmen Lindungi Habitat dan Koridor Gajah Sumatera di Jambi

Jambi

Komitmen Lindungi Habitat dan Koridor Gajah Sumatera di Jambi

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Kamis, 01 Okt 2026 19:00 WIB
Menhut saat melihat konservasi gajah di Jambi
Foto: Menhut saat melihat konservasi gajah di Jambi (Dok. Humas APP Group)
Jambi -

APP Group mendukung konsorsium PROTECT30 dalam upaya memperkuat perlindungan habitat dan koridor Gajah Sumatra di Lanskap Bukit Tigapuluh, Jambi. Kolaborasi ini diarahkan untuk menjaga konektivitas ruang jelajah gajah demi melindungi habitat gajah Sumatera di Jambi.

"Konservasi Gajah Sumatra membutuhkan kerja sama yang konsisten, berbasis ilmu pengetahuan, dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat di dalam lanskap. Melalui PROTECT30, APP Group mendukung para konsorsium PROTECT30, pemerintah, dan para mitra untuk memperkuat perlindungan habitat serta konektivitas pergerakan gajah di Lanskap Bukit Tigapuluh ini," kata Direktur APP Group Soewarso, dalam keterangan tertulis yang diterima detikSumbagsel, Selasa (29/9/2026).

Dukungan tersebut disampaikan dalam kegiatan kunjungan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni ke Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG) Tebo di Desa Muara Sekalo, Kabupaten Tebo, Jambi, pada Senin (28/9). Kegiatan itu juga turut didampingi Gubernur Jambi Al Haris beserta Kepala Humas PT WKS Jambi Taufik Qurochman, dan Penasihat Utama Menteri Kehutanan Dr Willie Smits.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soewarso juga menyebut, bahwa dukungan itu dinilai bukan hanya diarahkan untuk menjaga habitat dan koridor pergerakan Gajah Sumatra, tetapi juga mendorong pengelolaan Lanskap Bukit Tigapuluh secara berkelanjutan.

Bahkan, kata dia langkah ini juga menjadi cara pendekatan yang menempatkan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, serta kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan sebagai bagian yang tidak terpisahkan.

ADVERTISEMENT

"Melalui kolaborasi multipihak, upaya konservasi diharapkan tidak berhenti pada perlindungan kawasan dan satwa. Penguatan kapasitas masyarakat serta pengembangan alternatif mata pencaharian juga menjadi bagian penting," ujarnya.

"Ini juga agar masyarakat dapat ikut menjaga lanskap sekaligus memperoleh manfaat dari keberlanjutan kawasan," lanjutnya.

Dukungan APP Group melalui PROTECT30 juga diarahkan untuk memperkuat pendekatan forest-positive. Pendekatan tersebut menempatkan konservasi, pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, dan penguatan penghidupan masyarakat sebagai bagian yang saling berkaitan.

"Konservasi Gajah Sumatra membutuhkan kerja sama yang konsisten, berbasis ilmu pengetahuan, dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat di dalam lanskap. Bagi kami, dukungan ini merupakan bagian dari komitmen Regenesis untuk mendorong pendekatan forest-positive, sehingga upaya konservasi dapat berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab dan penguatan penghidupan masyarakat," tegas Soewarso.

Sementara itu, Kepala Humas PT WKS Jambi Taufik Qurochman mengatakan keberhasilan konservasi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, termasuk masyarakat yang hidup di sekitar habitat Gajah Sumatra.

"Konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Kita harus memastikan perlindungan habitat berjalan bersama dengan kepentingan masyarakat. Karena itu, kolaborasi seperti PROTECT30 penting untuk membangun keseimbangan antara menjaga alam, melindungi satwa, dan mendukung kehidupan masyarakat di sekitar kawasan," ujar Taufik.

Taufik Qurochman mengatakan dukungan APP Group melalui PROTECT30 merupakan bagian dari kolaborasi multipihak untuk menjaga Lanskap Bukit Tigapuluh, termasuk habitat dan ruang jelajah Gajah Sumatra.

"Yang kita dorong adalah bagaimana konservasi ini bisa berjalan bersama dengan masyarakat. Perlindungan habitat gajah tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, sehingga kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan mitra konservasi menjadi sangat penting," kata Taufik.

Menurut Taufik, pendekatan perlindungan lanskap juga perlu dibarengi dengan penguatan kapasitas masyarakat dan pengembangan alternatif penghidupan. Dengan begitu, upaya menjaga habitat gajah dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan.

Lanskap Bukit Tigapuluh merupakan salah satu bentang alam penting bagi Gajah Sumatra. Ruang jelajah satwa tersebut melintasi berbagai wilayah dengan fungsi kawasan, status pengelolaan, dan pemangku kepentingan yang berbeda.

Karena itu, perlindungan koridor menjadi bagian penting dalam konservasi jangka panjang. Koridor yang terjaga memungkinkan gajah tetap bergerak untuk mencari pakan dan sumber air serta berkembang biak secara alami.

Dalam kegiatan tersebut, Menhut Raja Juli Antoni menegaskan perlindungan habitat dan konektivitas ruang jelajah gajah tidak dapat hanya mengandalkan pendekatan perlindungan kawasan.

"Penegakan hukum itu penting. Tapi pada saat yang bersamaan, kita juga harus memberikan alternatif kepada mereka. Apa alternatif yang ideal yang bisa kita tawarkan kepada mereka? Saya kira ini bagian dari pemberdayaan masyarakat yang harus dibicarakan dengan baik-baik. Karena bagaimanapun, melindungi kawasan seperti ini juga harus melibatkan masyarakat," ujar Raja Juli Antoni.

Menurutnya, masyarakat yang hidup dan beraktivitas di sekitar lanskap harus menjadi bagian dari upaya konservasi. Penegakan hukum tetap diperlukan terhadap aktivitas yang melanggar ketentuan, tetapi harus berjalan bersamaan dengan pendekatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

"Penyediaan alternatif penghidupan bagi masyarakat menjadi penting karena ruang jelajah gajah bersinggungan dengan berbagai fungsi kawasan dan aktivitas manusia," sebutnya

PROTECT30 atau Promoting Sustainable Landscape Management through Biodiversity Conservation and Forest Positive Action in the Bukit Tigapuluh Landscape merupakan inisiatif kolaboratif yang melibatkan Proforest, Yayasan WWF-Indonesia, dan KKI Warsi, dengan dukungan APP Group.

Program tersebut dijalankan dengan melibatkan pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, sektor swasta, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Di Jambi, pelaksanaan kegiatan turut melibatkan BKSDA Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, pemerintah daerah, masyarakat, serta para pihak lainnya.

Kolaborasi ini nantinya juga diharapkan dapat menjaga koridor Gajah Sumatra tetap terhubung, sekaligus memastikan perlindungan satwa, keberlanjutan lanskap, dan kehidupan masyarakat dapat berjalan berdampingan.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads