Sebanyak 2.500 siswa SD hingga SMP di Kota Jambi menjadi sasaran bantuan kuota internet gratis senilai Rp 50 juta untuk mendukung pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat kabut asap karhutla. Bantuan dari Pemerintah Kota Jambi bersama Baznas ini ditujukan terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Wali Kota Jambi Maulana mengatakan penyaluran bantuan dilakukan melalui Dinas Pendidikan Kota Jambi berdasarkan data siswa yang membutuhkan. Pemerintah memastikan proses distribusi mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
"Untuk kuota gratis sudah kita salurkan sesuai prosedur melalui data dari Dinas Pendidikan Kota Jambi," kata Maulana, kepada wartawan, (22/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan telah berdampak terhadap kegiatan pendidikan di Jambi. Sudah berbulan-bulan para siswa PAUD, SD hingga SMP terganggu sekolah mereka akibat kabut asap.
Buruknya kualitas udara akibat asap itu juga membuat sekolah tingkat SD hingga SMP menerapkan PJJ untuk mengurangi paparan asap terhadap peserta didik.
"Peralihan pembelajaran dari sekolah ke rumah membuat akses internet menjadi kebutuhan penting bagi siswa. Namun, bagi keluarga kurang mampu, biaya kuota dapat menambah beban pengeluaran, terutama ketika kegiatan belajar daring harus berlangsung selama kondisi udara belum membaik," ujar Maulana.
Melalui bantuan ini, Maulana menyebut agar bantuan kuota itu dapat membantu siswa tetap terhubung dengan guru, mengakses materi pelajaran, dan menyelesaikan tugas sekolah. Pendataan penerima dilakukan terhadap siswa sekolah negeri maupun swasta, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga agar bantuan menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.
"Bantuan Rp 50 juta tersebut bersumber dari program tanggap bencana kabut asap Kota Jambi 2026. Dana disalurkan melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Dinas Pendidikan Kota Jambi dan berasal dari pengelolaan zakat, infak, serta sedekah masyarakat dan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Jambi," sebutnya.
Dengan target 2.500 siswa, anggaran tersebut setara Rp 20 ribu per siswa apabila dibagi rata. Karena itu, realisasi jumlah penerima dan mekanisme pembagian kuota menjadi hal penting untuk memastikan bantuan tersalurkan secara transparan dan tepat sasaran.
Selain membantu biaya internet, dukungan ini diharapkan menjaga keberlangsungan pendidikan selama PJJ. Meski demikian, efektivitas pembelajaran daring juga bergantung pada ketersediaan perangkat, akses jaringan, serta pendampingan orang tua selama anak belajar dari rumah.
Maulana berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban keluarga sekaligus memastikan siswa tetap memperoleh hak pendidikan meski kegiatan belajar terganggu kabut asap.
"Kita berharap bantuan ini meringankan beban orang tua dan memastikan anak-anak tetap bisa mengikuti pembelajaran selama PJJ akibat kabut asap," tutup Maulana.
