Operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan teknologi dry ice kembali dilakukan, Sabtu (17/10/2026). Seusai penyemaian 800 kilogram dry ice, OMC juga diperkuat dengan menaburkan natrium klorida (NaCl) di potensi bibit awan hujan di sejumlah daerah.
"OMC penyemaian dry ice hari ini dilakukan 1 sortie dan NaCl 1 sortie. Upaya maksimal terus dilakukan untuk menghilangkan kabut asap yang terperangkap melalui OMC dry ice dan penyemaian NaCl di bibit awan hujan untuk penanganan di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," ujar Kepala Stasiun Meteorologi SMB II Palembang Siswanto.
Menurutnya OMC dry ice dengan CO2 padat yang dilakukan saat ini untuk membuka lapisan inversi yang memerangkap kabut asap di wilayah Palembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Material dry ice berfungsi untuk mempengaruhi labilitas atmosfer agar konsentrasi asap yang terjebak di bawah lapisan inversi dapat bergerak naik dan terurai. Dengan begitu, jarak pandang mendatar atau visibility akan meningkat," katanya.
"Kondisi ini juga akan membuat sinar matahari tembus. Jika sudah tembus, bisa terjadi penguapan," sambungnya.
Siswanto mengungkapkan tahap awal OMC dry ice dilakukan di lokasi vital, salah satunya area Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II dan Lanud Sri Mulyono Herlambang.
"Kenapa di lokasi itu dahulu, karena dampak kabut asap sudah membahayakan transportasi udara dengan jarak pandang yang terbatas. Kemudian, helikopter water bombing untuk penanganan karhutla juga terkendala untuk melakukan pemadaman karena kabut adap. Termasuk juga pesawat untuk OMC sempat harus berangkat dari Bandara Depati Amir (NaCl) dan Radin Inten II (dry ice)," terangnya.
Dalam pelaksanaan OMC dry ice hari ketiga yang dilakukan pukul 11.38 WIB-13.22 WIB, penyemaian dilakukan di area timur hingga tenggara Palembang.
Sedangkan OMC NaCl sebanyak 800 kg dilakukan pukul 14.47 WIB-16.36 WIB. Penyemaian dilakukan di wilayah timur laut Palembang, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir.
"Kita harapkan pelaksanaan OMC ini mendapatkan efek domino, kabut asap bisa berkurang bahkan harapannya hilang dan hujan terjadi di lokasi-lokasi karhutla," ungkap Siswanto.
