Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Sabtu (17/10/2026) dini hari. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut kondisi gunung api tersebut masih belum stabil karena energi di dalamnya masih dapat memicu letusan.
Berdasarkan laporan aktivitas gunung api, erupsi terjadi berulang kali mulai pukul 01.31 WIB hingga setidaknya pukul 02.15 WIB. Visual letusan tidak teramati dalam sejumlah laporan tersebut.
Erupsi pada pukul 01.40 WIB terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 milimeter dan durasi 22 detik. Sementara itu, erupsi pada pukul 01.47 WIB memiliki amplitudo maksimum 55 milimeter dengan durasi 29 detik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erupsi kembali tercatat pada pukul 02.15 WIB dengan amplitudo maksimum 53 milimeter dan durasi 28 detik.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan kondisi di dalam tubuh gunung api tersebut masih belum stabil. Menurutnya, aktivitas kegempaan masih menjadi salah satu indikator yang perlu dipantau untuk melihat perkembangan aktivitas vulkanik.
"Ya, itu masih belum stabil, Mas. Di dalamnya itu belum stabil. Mungkin kegempaannya juga masih ada. Ketika ada energi, bisa juga keluar," kata Suwarno.
Dia menjelaskan, aktivitas letusan yang kembali terjadi setelah letusan sebelumnya mereda menunjukkan masih adanya energi yang dilepaskan dari dalam gunung.
Suwarno mencontohkan, setelah terjadi letusan besar, aktivitas erupsi sempat berhenti sebelum kembali muncul dengan letusan berikutnya yang tidak sebesar sebelumnya.
"Makanya habis letusan besar, kemarin kan besar, kemudian berhenti, ada lagi. Terus kemudian berhenti lagi, ada lagi, walaupun tidak besar-besaran. Itu masih ada energi," ujarnya.
Meski demikian, Suwarno mengatakan belum dapat memastikan apakah Gunung Anak Krakatau akan kembali mengalami letusan dengan skala lebih besar. Perkembangan aktivitas gunung tersebut masih harus dilihat berdasarkan hasil pemantauan, terutama aktivitas kegempaannya.
"Ya, belum tahu. Itu tinggal kita lihat kegempaannya," tuturnya.
Suwarno juga menegaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta berkaitan dengan gempa bumi yang terjadi di sejumlah wilayah Lampung maupun aktivitas gunung api lain di Indonesia.
Menurutnya, setiap gunung api memiliki sistem dapur magma masing-masing. Kesamaan waktu terjadinya peningkatan aktivitas pada beberapa gunung api tidak otomatis menunjukkan adanya hubungan langsung.
"Memang enggak ada keterkaitan. Gunung itu mempunyai dapur magma tersendiri," jelasnya.
Dia menambahkan, aktivitas vulkanik setiap gunung api memiliki karakteristik dan siklus yang berbeda. Karena itu, pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau perlu terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitasnya.
Masyarakat diimbau tetap mengikuti rekomendasi resmi dari petugas pemantauan gunung api dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
