Kabut Asap Bikin Pesawat Return to Base, Maskapai Terbebani Biaya Avtur

Sumatera Selatan

Kabut Asap Bikin Pesawat Return to Base, Maskapai Terbebani Biaya Avtur

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Selasa, 13 Okt 2026 11:00 WIB
Pesawat komersial Airbus A330-941 milik maskapai penerbangan Lior Air mendarat di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (17/9/2026). Berdasarkan data dari pengelola Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang kabut asap dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) mengakibatkan jarak pandang menurun hingga 700 meter sehingga kedatangan empat penerbangan dari Singapura, Jeddah, Yogyakarta dan Jakarta mengalami keterlambatan. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Foto: Ilustrasi kabut asap di Palembang (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Palembang -

Kabut asap yang menyelimuti Palembang, Sumatera Selatan, berdampak pada operasional penerbangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II. Selain keterlambatan panjang, sejumlah penerbangan dilaporkan harus kembali ke Jakarta setelah gagal mendarat (return to base/RTB) di Palembang.

General Manager Garuda Indonesia Cabang Palembang, Yona W. Kemala, mengatakan gangguan penerbangan akibat kabut asap dalam sepekan terakhir menimbulkan kerugian operasional bagi maskapai.

"Iya betul, seminggu terakhir penerbangan delay panjang dan beberapa flight RTB ke Jakarta. Kerugian pasti ada, dikarenakan flight holding untuk bisa landing menghabiskan fuel, dan akhirnya kembali ke Jakarta," kata Yona, Senin (12/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yona menjelaskan, pesawat yang harus menunggu di udara untuk mendapatkan kesempatan mendarat membutuhkan tambahan bahan bakar. Namun, apabila kondisi jarak pandang tidak memungkinkan untuk pendaratan, pesawat dapat mengambil keputusan kembali ke bandara asal.

Kondisi tersebut membuat konsumsi avtur bertambah, sementara penerbangan menuju Palembang tidak dapat diselesaikan sesuai rencana awal.

ADVERTISEMENT

"Gangguan penerbangan juga berdampak terhadap penumpang," ungkapnya.

Yona menyebut penumpang yang memiliki jadwal penerbangan lanjutan menjadi salah satu pihak yang ikut terdampak, baik untuk perjalanan domestik maupun internasional.

"Kerugian juga ada pada penumpang, terutama penumpang dengan connecting flight, baik domestik maupun internasional," ujarnya.

Penumpang yang mengalami keterlambatan atau perubahan jadwal kedatangan berisiko kehilangan penerbangan lanjutan apabila waktu transit tidak mencukupi.

"Mereka juga harus menyesuaikan kembali jadwal perjalanan dan agenda yang telah direncanakan," ujarnya.

Meski menimbulkan konsekuensi biaya dan waktu, keputusan operasional penerbangan tetap mempertimbangkan keselamatan. Pesawat tidak dapat dipaksakan mendarat apabila kondisi jarak pandang tidak memenuhi persyaratan operasional.

Gangguan penerbangan di Palembang sendiri terjadi di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung berkepanjangan. Kondisi jarak pandang yang berubah-ubah membuat kelancaran penerbangan bergantung pada situasi cuaca di bandara tujuan maupun bandara alternatif.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads