Walkot Palembang Minta Usut Tuntas Kasus Pembina Pramuka Sodomi Siswa

Sumatera Selatan

Walkot Palembang Minta Usut Tuntas Kasus Pembina Pramuka Sodomi Siswa

Irawan - detikSumbagsel
Senin, 12 Okt 2026 20:40 WIB
Wali Kota Palembang Ratu Dewa
Foto: Wali Kota Palembang Ratu Dewa (Irawan)
Palembang -

Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak kembali menjadi sorotan di dunia pendidikan Kota Palembang, Sumatera Selatan. Seorang oknum pembina Pramuka di salah satu SMP Negeri di Palembang diduga melakukan tindakan sodomi terhadap sedikitnya delapan orang siswanya.

Peristiwa tersebut mendapat perhatian Wali Kota Palembang Ratu Dewa. Ia menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan kekerasan seksual yang menimpa para siswa tersebut, sekaligus menegaskan bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas utama.

Ratu Dewa menyatakan keprihatinannya, baik atas nama pribadi maupun sebagai kepala daerah. Menurutnya, anak-anak yang diduga menjadi korban membutuhkan perlindungan, pendampingan, serta dukungan agar dapat melewati situasi sulit yang mereka alami.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya menyampaikan keprihatinan mendalam kepada anak yang diduga menjadi korban dan keluarganya. Pemerintah Kota Palembang berpihak pada perlindungan anak dan pemulihan korban," katanya kepada detikSumbagsel, Senin (12/10/2026).

Ia menegaskan, dugaan tindak kekerasan seksual terhadap anak merupakan persoalan serius yang harus ditangani secara menyeluruh. Penanganan perkara tidak cukup hanya berfokus pada proses hukum terhadap terduga pelaku, tetapi juga harus memastikan kondisi para korban mendapat perhatian.

ADVERTISEMENT

Ratu Dewa pun mendorong aparat penegak hukum mengusut perkara tersebut hingga tuntas. Ia meminta seluruh dugaan yang muncul diperiksa secara profesional sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Kami mendorong aparat penegak hukum mengusut perkara ini secara tuntas dan bertindak tegas sesuai hukum, termasuk mendalami dugaan adanya korban anak lainnya," tegasnya.

Selain meminta aparat penegak hukum mengusut kasus tersebut, Ratu Dewa juga meminta Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang turun langsung menindaklanjuti peristiwa yang diduga terjadi di lingkungan sekolah tersebut.

Langkah itu diperlukan untuk memastikan penanganan di lingkungan pendidikan berjalan dengan baik, terutama dalam memberikan perlindungan kepada siswa dan memastikan kepentingan anak-anak yang diduga menjadi korban tidak terabaikan.

Dinas Pendidikan diharapkan berkoordinasi dengan pihak sekolah serta instansi terkait untuk menelusuri persoalan tersebut sesuai kewenangan masing-masing. Upaya ini juga penting guna memastikan lingkungan sekolah tetap aman bagi seluruh peserta didik.

Menurut Ratu Dewa, kasus dugaan kekerasan seksual terhadap siswa tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Sekolah semestinya menjadi tempat yang aman bagi anak untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan membangun masa depan tanpa rasa takut terhadap ancaman kekerasan.

"Karena itu, penanganan kasus tersebut harus mengutamakan keselamatan dan kepentingan terbaik bagi anak, sembari tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan," ungkapnya.

Ratu Dewa juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap keluarga anak yang diduga menjadi korban. Ia mengingatkan agar keluarga tidak dibiarkan menghadapi persoalan tersebut sendirian, mengingat dampak dugaan kekerasan seksual dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kehidupan sosial anak.

Pendampingan yang tepat diperlukan agar anak dapat memperoleh rasa aman dan kesempatan untuk menjalani pemulihan. Penanganan terhadap korban juga perlu dilakukan dengan menghindari tindakan atau pemberitaan yang berpotensi menambah beban psikologis mereka.

"Keluarga korban tidak boleh dibiarkan menghadapi situasi ini sendirian," katanya.

Ia menilai, perlindungan terhadap anak yang diduga menjadi korban harus dilakukan secara berkelanjutan. Selain penanganan hukum, dukungan keluarga dan pendampingan dari pihak berkompeten menjadi bagian penting dalam membantu korban menghadapi dampak peristiwa tersebut.

Ratu Dewa berharap semua pihak yang terlibat dalam penanganan perkara dapat mengedepankan kepentingan anak dan tidak melakukan tindakan yang justru memperburuk kondisi korban.

Di tengah perhatian publik terhadap kasus tersebut, Ratu Dewa mengimbau masyarakat agar tidak menyebarkan identitas maupun informasi pribadi anak-anak yang diduga menjadi korban.

Menurutnya, menjaga privasi korban merupakan langkah penting untuk mencegah munculnya trauma berulang. Penyebaran nama, foto, alamat, maupun informasi lain yang dapat mengungkap identitas anak berpotensi menimbulkan tekanan tambahan bagi korban dan keluarganya.

"Saya juga mengimbau masyarakat untuk menjaga identitas dan privasi anak agar korban tidak mengalami trauma berulang," ujarnya.

Ia meminta masyarakat menyikapi kasus ini secara bijak dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Dukungan publik seharusnya diarahkan pada upaya perlindungan korban serta mendorong proses penegakan hukum berjalan dengan baik.

Ratu Dewa menegaskan, keselamatan, pemulihan, dan masa depan anak harus menjadi perhatian utama semua pihak. Pada saat yang sama, proses hukum perlu berjalan secara profesional dan adil agar perkara tersebut dapat ditangani berdasarkan fakta dan ketentuan hukum.

"Keselamatan, pemulihan, dan masa depan anak harus menjadi prioritas, sementara proses hukum tetap berjalan dengan profesional dan adil," tutupnya.

Kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan oknum pembina Pramuka tersebut menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Penanganan yang tepat diharapkan dapat memberikan keadilan bagi korban sekaligus memastikan lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman bagi seluruh siswa.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads