Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, kembali memburuk pada Minggu (11/10/2026) sore. Setelah sempat melandai dan berada pada kategori merah atau sangat tidak sehat, konsentrasi partikulat halus PM2.5 di stasiun pemantauan milik BMKG kembali meningkat hingga masuk kategori berbahaya.
Pemantauan di Stasiun PM2.5 Talang Betutu dan Musi 2 menunjukkan kondisi kualitas udara yang masih mengkhawatirkan. Berdasarkan catatan pemantauan, konsentrasi PM2.5 bahkan sempat menembus angka di atas 700 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
"Udara Palembang sempat tercatat tinggi pada pukul 14.00 WIB hingga mencapai 731,6 µg/m³ di Stasiun PM2.5 Talang Betutu," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka tersebut perlu menjadi perhatian mengingat kategorinya berada pada level berbahaya. Di Stasiun Talang Betutu kategori berbahaya terjadi sejak pukul 11.00 WIB. Sedangkan di Musi 2 tercatat sejak pukul 13.00 WIB.
"Di Musi 2 angka PM2.5 tertinggi tercatat sebesar 673,4 µg/m³ pada pukul 15.00 WIB," tambahnya.
Menurutnya, angka PM2.5 itu bersifat fluktuatif. Hingga update pukul 17.00 WB, angka PM2.5 di Musi 2 tercatat 286,9 µg/m³. Sedangkan di Talang Betutu, tercatat 350,5 µg/m³ pada jam yang sama.
Sebelumnya pada Minggu pagi, konsentrasi PM2.5 di kedua stasiun juga tercatat sangat tinggi. Angka tertinggi mencapai 497,9 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB. Sedangkan di Talang Betutu sebesar 451,3 pada pukul 00.00 WIB.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian, terutama warga yang beraktivitas di luar ruangan. Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan atau jantung.
"Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker," tukasnya.
