Walaupun berada di balik jeruji besi, semangat narapidana Lapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak, Tanjung Jabung Timur, Jambi, untuk belajar mengaji terus menyala. Sebanyak 150 narapidana kini mampu membaca Al-Qur'an setelah mengikuti pembinaan di Rumah Tahfidz Qur'an.
RD, salah satu warga binaan yang kini telah lancar membaca Al-Qur'an. Semangatnya tak pernah redup, untuk mengasah ilmu keagamaan dalam hal mengaji.
"Dulu saya tidak bisa membaca Al-Qur'an. Setelah mengikuti pembinaan di Rumah Tahfidz dan belajar secara bertahap, sekarang saya sudah bisa membaca Al-Qur'an," kata RD, Sabtu (10/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dulu, membaca Al-Qur'an menjadi hal yang sulit bagi RD. Huruf demi huruf terasa asing. Ia harus melewati proses belajar secara bertahap, mulai dari mengenal huruf hijaiyah, mengeja melalui buku Iqra, memperbaiki pelafalan, hingga akhirnya mampu membaca ayat demi ayat.
Kini, di balik tembok Lapas Narkotika Muara Sabak, RD mulai bisa membaca Al-Qur'an. Kemampuan itu memang tidak datang secara instan.
Bagi sebagian orang, kemampuan membaca Al-Qur'an mungkin merupakan hal biasa. Namun, bagi RD, pencapaian tersebut memiliki arti tersendiri.
Di tempat yang membatasi kebebasan bergeraknya, ia justru menemukan kesempatan untuk mempelajari sesuatu yang sebelumnya belum dikuasainya. Waktu yang dijalani di balik jeruji pun perlahan memiliki makna baru bagi dirinya.
"Bagi saya, ini sangat berarti karena waktu yang saya jalani di Lapas menjadi lebih berguna. Saya bisa belajar sesuatu yang sebelumnya tidak saya kuasai dan menjadi bekal untuk memperbaiki diri ketika nantinya kembali ke masyarakat," ujarnya.
Kisah RD menjadi salah satu gambaran perubahan yang tumbuh melalui program Rumah Tahfidz Qur'an di Lapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak. Selama kurang lebih satu tahun, program pembinaan keagamaan itu berjalan dengan bimbingan Kiai Ahmad Zulfikar.
Di tempat tersebut, warga binaan mendapatkan kesempatan belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing. Mereka yang belum mengenal huruf hijaiyah memulai dari Iqra.
Warga binaan yang sudah bisa membaca diarahkan untuk memperbaiki bacaannya, sementara yang lebih mahir mendapat kesempatan menghafal surah hingga menyelesaikan hafalan Al-Qur'an 30 juz.
Perjalanan setiap orang berbeda. Ada yang harus mengulang bacaan berkali-kali sebelum mampu melafalkan huruf dengan benar. Ada pula yang menempuh proses panjang untuk menjaga hafalan agar tetap melekat dalam ingatan.
Kesalahan pelafalan diperbaiki, bacaan diulang, dan hafalan dipelajari kembali. Rutinitas itu menuntut kesabaran, kedisiplinan, serta ketekunan.
Bagi warga binaan seperti RD, proses tersebut juga menjadi kesempatan untuk menata kembali kehidupan. Mereka tidak hanya belajar membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi juga diharapkan dapat memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Namun, dari proses yang berlangsung secara bertahap itu, hasilnya mulai terlihat. Sebanyak 150 warga binaan yang sebelumnya belum mampu membaca Al-Qur'an kini telah memiliki kemampuan tersebut.
"Capaian 150 warga binaan yang sebelumnya tidak bisa membaca Al-Qur'an hingga kini mampu membaca merupakan hasil yang sangat positif," kata Kepala Lapas Narkotika Muara Sabak, Muhammad Askari Utomo.
Capaian itu menjadi salah satu hasil pembinaan keagamaan yang dijalankan di dalam lapas. Selain itu, sekitar 30 warga binaan mengikuti kegiatan khataman Al-Qur'an setiap akhir bulan. Sementara itu, 12 warga binaan telah menyelesaikan hafalan 30 juz.
Askari mengatakan pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam proses perubahan warga binaan. Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemampuan membaca atau jumlah hafalan yang diselesaikan. Lebih dari itu, nilai-nilai yang dipelajari diharapkan dapat tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
"Pembinaan keagamaan tidak hanya tentang kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi bagaimana nilai-nilai yang dipelajari dapat membentuk sikap dan perilaku yang lebih baik," ujarnya.
Askari mengapresiasi capaian 150 warga binaan yang sebelumnya belum mampu membaca Al-Qur'an hingga kini dapat membacanya. Ia menilai perkembangan tersebut menjadi hasil positif dari pembinaan yang telah berjalan.
Keberhasilan 12 warga binaan menyelesaikan hafalan 30 juz juga menjadi bagian dari perkembangan program tersebut. Begitu pula kegiatan khataman yang rutin digelar setiap akhir bulan, ketika para warga binaan berkumpul untuk menuntaskan bacaan Al-Qur'an.
Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar cara mengisi waktu selama menjalani masa pidana. Pembinaan diharapkan dapat memberikan bekal yang bermanfaat ketika warga binaan kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
"Kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi seluruh warga binaan. Apa yang mereka dapatkan selama berada di Lapas diharapkan menjadi bekal untuk kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik," ujar Askari.
Kehidupan di dalam lapas membuat warga binaan harus menjalani berbagai keterbatasan. Namun, di tengah kondisi tersebut, kesempatan untuk belajar tetap terbuka.
