Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda tidak lagi terdeteksi dalam analisis citra satelit Himawari-9 pada Jumat (9/10/2026) malam hingga Sabtu (10/10/2026) pagi. Sebelumnya, abu terpantau bergerak ke arah barat dengan ketinggian mencapai 1,8 kilometer.
Berdasarkan analisis citra satelit pada Jumat pukul 19.00 WIB, sebaran abu vulkanik teridentifikasi mengarah ke barat dan mencakup sebagian wilayah Selat Sunda di sebelah barat Pandeglang, Banten.
Namun, pada pengamatan pukul 22.00 WIB di hari yang sama, sebaran abu tersebut tidak lagi teridentifikasi. Kondisi serupa ditemukan dalam analisis citra satelit pada Sabtu pukul 07.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Forecaster on Duty BMKG Lampung, Ramadhan Nurpambudi, mengatakan arah sebaran abu diketahui berdasarkan hasil analisis citra RGB Himawari-9.
"Sebaran abu vulkanik terpantau mengarah ke barat pada pengamatan pukul 19.00 WIB. Informasi ini penting untuk mengetahui arah sebaran abu berdasarkan analisis citra satelit," ujar Ramadhan saat dikonfirmasi, Sabtu (10/10/2026).
Ramadhan menjelaskan, abu vulkanik tidak teridentifikasi dalam dua waktu pengamatan berikutnya. Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan seluruh partikel abu di atmosfer telah hilang.
"Pada pengamatan berikutnya, sebaran abu vulkanik tidak teridentifikasi melalui analisis citra satelit. Masyarakat tetap perlu mengikuti informasi resmi karena kondisi atmosfer dan aktivitas gunung api dapat berubah," katanya.
Tidak terdeteksinya sebaran abu pada citra satelit terbaru terjadi di tengah peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan pengamatan PVMBG periode Jumat (9/10), tercatat 26 kali gempa letusan. Gempa tersebut memiliki amplitudo 28-66 milimeter dengan durasi 12-752 detik.
Status Gunung Anak Krakatau juga telah dinaikkan dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga sejak Jumat pukul 21.00 WIB.
PVMBG menetapkan larangan memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Masyarakat juga diminta menjauhi radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau.
Ramadhan mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan satu hasil pemantauan sebagai satu-satunya acuan untuk menilai kondisi terkini.
"Kami mengimbau masyarakat untuk memantau informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait. Jangan hanya berpatokan pada satu waktu pengamatan, tetapi perhatikan pembaruan informasi yang tersedia," ujarnya.
Masyarakat di wilayah Lampung dan Banten diminta tetap tenang, mengikuti rekomendasi PVMBG, serta mematuhi arahan pemerintah daerah dan BPBD setempat.
