Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi mencapai 42.455 hektare. Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar yakni 11.425 hektare.
Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf mengatakan hasil analisis tersebut menunjukkan karhutla telah menjadi ancaman serius bagi bentang alam Jambi. Kondisi ini membutuhkan perhatian bersama, terutama di wilayah yang memiliki ekosistem gambut.
"Berdasarkan analisis spasial menggunakan Citra Satelit Sentinel 2 oleh Divisi GIS/IT KKI Warsi, luas areal yang teridentifikasi terbakar kini mencapai sekitar 42 ribu hektare," kata Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, Jumat (9/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Luas kebakaran yang teridentifikasi ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa ancaman karhutla di Jambi masih sangat serius. Penanganannya membutuhkan kewaspadaan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, pemegang izin usaha, aparat penegak hukum hingga masyarakat," sambungnya.
Berdasarkan data KKI Warsi, eari total luasan karhutla tersebut, Tanjung Jabung Timur mencatat areal terbakar mencapai 11.425 hektare, kemudian disusul Kabupaten Sarolangun seluas 7.694 hektare, Tebo 7.460 hektare, dan Batanghari 6.734 hektare.
kebakaran juga teridentifikasi di Muaro Jambi seluas 4.102 hektare, Tanjung Jabung Barat 3.334 hektare, Bungo 1.451 hektare, Merangin 209 hektare, dan Kota Jambi 46 hektare.
Selain luasnya areal yang terbakar, kebakaran di kawasan gambut menjadi perhatian khusus. KKI Warsi mencatat sekitar 10.768 hektare dari total luasan kebakaran berada di kawasan gambut.
Kabupaten Tanjung Jabung Timur menjadi wilayah dengan luasan gambut terbakar terbesar, yakni 6.751 hektare. Kemudian Muaro Jambi mencapai 2.689 hektare dan Sarolangun 1.190 hektare.
Rudi menjelaskan, gambut merupakan ekosistem yang memiliki fungsi penting bagi lingkungan. Selain menyimpan cadangan karbon, kawasan gambut turut berperan dalam menjaga tata air dan mendukung keberlangsungan habitat berbagai jenis satwa dan tumbuhan.
Menurutnya, kebakaran di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan dampak berkepanjangan karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah.
"Ketika gambut mengering, api tidak hanya membakar vegetasi yang terlihat di permukaan. Api juga bisa merambat melalui lapisan organik di bawah tanah sehingga proses pemadaman menjadi lebih sulit dan kebakaran berpotensi terjadi kembali," ujarnya.
Berdasarkan fungsi kawasan, areal terbakar paling luas teridentifikasi di hutan produksi mencapai 13.505 hektare.
Berikutnya taman nasional seluas 10.183 hektare, hutan produksi terbatas 6.462 hektare, areal penggunaan lain 6.385 hektare, taman hutan raya 4.988 hektare, dan hutan lindung 932 hektare.
Kebakaran yang teridentifikasi di kawasan taman nasional, termasuk Taman Nasional Berbak Sembilang, juga menjadi perhatian karena kawasan tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem gambut dan keanekaragaman hayati.
Rudi meminta penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada upaya mencegah api meluas ke kawasan yang rentan.
"Lokasi-lokasi yang memiliki gambut perlu menjadi prioritas penanganan. Selain memastikan api benar-benar padam, perlu dilakukan langkah pencegahan agar kebakaran tidak meluas dan tidak berulang pada kawasan yang sama," ujarnya.
