Kabut asap di Kota Jambi, makin pekat dan dalam kategori berbahaya. Paparan partikel abu imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terlihat jelas membuat perih mata saat berkendara.
Indeks kualitas udara di Kota Jambi, berdasarkan pantauan aplikasi IQAir, Rabu (7/10) pukul 16.00 WIB, berada di angka 730 atau berbahaya. Kondisi ini begitu terasa bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan. Langit Kota Jambi tampak menguning, hingga matahari tak mampu menembus tebalnya kabut asap.
"Mata perih kalau berkendara. Sudah pakai masker tetap sesak," kata Ike Selviana, warga Jambi Selatan, Kota Jambi, Rabu (7/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ike, kondisi kabut asap sudah cukup mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Apalagi dia merupakan pekerja kantoran yang harus pergi pagi dan pulang sore hari, dalam dua kondisi kabut sedang pekat. Ia mengaku paling merasakan dampaknya ketika harus berkendara di luar rumah.
"Kalau kalau asapnya sedang pekat, mata seperti pedih dan rasanya tidak nyaman. Dua minggu terakhir ini terasa sekali pekatnya," katanya.
Selain membuat mata perih, ia juga mengaku terkadang mengalami sesak napas ketika berada di luar rumah dalam kondisi udara yang dipenuhi asap. Kemudian, paparan partikel abu imbas karhutla terlihat secara kasatmata.
"Kadang juga terasa sesak napas. Kalau asapnya tebal, memang terasa lebih berat untuk bernapas. Jadi pakai masker berlapis," ujarnya.
Ia berharap kondisi udara di Kota Jambi segera membaik. Menurutnya, masyarakat membutuhkan udara yang lebih bersih agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu.
"Kami berharap asapnya cepat hilang. Karena masyarakat juga harus tetap beraktivitas, bekerja, dan berkendara. Kalau udaranya seperti ini tentu cukup mengganggu," tuturnya.
Hal yang sama juga diungkap Rudi, pengendara ojek online (ojol). Sebagai pekerja luar ruangan, dia juga merasakan perih di mata saat berkendara dan jarak pandang berkurang.
"Yang dirasakan pasti perih mata, udaranya sesak sekali," ujarnya.
Kata dia, semenjak aktivitas anak sekolah belajar daring, dia merasakan penurunan pendapatan dari hari biasanya.
"Imbasnya juga pendapatan turun karena anak-anak kan belajar daring. Jadi berharap orang-orang kantoran lah pesan. Biasanya sehari bisa Rp 300 ribu, sekarang di bawah itu," katanya.
