Kualitas udara di Palembang, kian pekat pada Rabu (7/10/2026). Data di Stasiun PM2.5 Musi 2, masih menunjukkan status berbahaya. Bahkan, kondisi udara itu kini menjadi rata-rata harian di Palembang.
Tercatat sejak pukul 11.00-18.00 WIB, kondisi udara di Palembang dalam kategori berbahaya. Nilai PM2.5 tertinggi tercatat pukul 18.00 WIB, yang mencapai 527,8 µg/m³.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Faisal Malik Hendropriyono yang melakukan kunjungan kerja ke Palembang juga merasakan dampaknya. Dia mengaku asap mulai dirasakan sejak dirinya mendarat Rabu pagi di Palembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi itu, disebutnya harus menjadi perhatian. Penanganan karhutla di Sumsel dimintanya dilakukan lebih masif, agar dapat mengurangi dampak asap.
"Kita mohon maaf kepada masyarakat Palembang dan Sumsel bahwa (bencana asap akibat karhutla) ini terjadi. Terhirup sih memang (asapnya)," ujarnya, Rabu (7/10/2026).
Dalam kunkernya, dia juga meninjau salah satu titik karhutla di wilayah Talang Jambe, sebelum melakukan rapat koordinasi penanggulangan karhutla di Kantor BPBD Sumsel bersama Gubernur Herman Deru dan 43 perusahaan perkebunan.
Menurutnya pemerintah terus bekerja melakukan penanganan karhutla agar kondisi udara membaik dan masyarakat beraktivitas dengan nyaman.
"Bagaimanapun caranya, kita harus bekerja keras supaya masyarakat bisa menikmati (udara) dengan baik-baik saja. Jadi, kami akan lakukan penanganan yang lebih baik," katanya.
Dia juga mengimbau masyarakat melakukan antisipasi terhadap kondisi kabut asap dengan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar.
"Masyarakat Palembang jangan lupa pakai masker," tambahnya.
