Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan perbatasan Tahura Orang Kayo Hitam (OKH) dan Taman Nasional Berbak (TN Berbak) kini telah merambah kawasan konservasi. Petugas masih berjibaku memadamkan api di tengah kendala akses dan keterbatasan sumber air.
Kepala Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) Yunaidi mengatakan kebakaran di kawasan tersebut telah berlangsung sejak 28 September 2026. Api kemudian merembet hingga masuk ke kawasan TN Berbak.
"Sejak tanggal 28 September 2026 ada kebakaran di Tahura Orang Kayo Hitam, dan saat ini api sudah masuk ke kawasan TN Berbak," kata Yunaidi, Selasa (6/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yunaidi mengatakan proses pemadaman tidak mudah. Lokasi titik api sulit dijangkau melalui jalur darat, sementara petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air untuk melakukan pemadaman.
"Saat ini masih kesulitan air untuk pemadaman dan akses yang sulit untuk menjangkau titik api di lokasi tersebut," jelasnya.
Untuk mengendalikan kebakaran, kekuatan personel terus ditambah. Pemadaman melibatkan Manggala Agni TNBS, DAOP Bukit Tempurung, DAOP Kota, BPBD, personel Korem serta masyarakat peduli api (MPA).
"Segala upaya terus dilakukan untuk pemadaman dan diharapkan segera diturunkan hujan," terangnya.
Selain di kawasan TN Berbak, tim Satgas Karhutla juga masih melakukan pemadaman di sejumlah titik kebakaran di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Salah satunya berada di wilayah Rantau Rasau.
"Saat ini tim masih melakukan pemadaman di beberapa lokasi kebakaran di Rantau Rasau," kata Yunaidi.
Hingga kini, Balai TNBS belum dapat memastikan luas kawasan TN Berbak yang terdampak kebakaran. Data luas lahan terbakar masih menunggu laporan dari tim yang berada di lapangan.
"Belum dapat angkanya (luas lahan terbakar), masih menunggu data dari tim di lapangan. Untuk informasi harimau, Alhamdulillah habitatnya masih aman," sebutnya.
Kebakaran tersebut terjadi di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah Jambi. Dalam sekitar dua pekan terakhir, asap pekat masih dirasakan masyarakat dan kualitas udara di sejumlah wilayah sempat berada pada level Berbahaya.
Yunaidi mengatakan upaya pemadaman akan terus dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengurangi dampak kebakaran terhadap kawasan konservasi.
"Kita terus berupaya melakukan pemadaman dan mengendalikan api agar tidak semakin meluas," tegasnya.
