Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat sebanyak 29.969 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang 30 Agustus hingga 19 September 2026. Dari jumlah itu, dalam sepekan mencapai 10 ribu kasus. Peningkatan terjadi pada pekan kedua dan ketiga September.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa mengatakan peningkatan kasus ISPA tersebut terjadi seiring dengan dampak kabut asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Berdasarkan data, pada 30 Agustus-5 September jumlah kasus ISPA di Sumsel sebanyak 9.823 orang, periode 6-12 September kasusnya naik menjadi 10.126 orang, dan 13-19 September masih tercatat tinggi dengan 10.020 kasus," ujar Ira, Selasa (28/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data tersebut, jumlah kasus ISPA meningkat sebanyak 303 kasus pada pekan kedua September dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara pada pekan ketiga, jumlah kasus tercatat sedikit menurun sebanyak 106 kasus, namun masih berada di atas 10 ribu kasus.
Jika dijumlahkan, terdapat 29.969 kasus ISPA yang tercatat selama tiga periode tersebut. Ira menyebut kondisi kabut asap akibat karhutla menjadi salah satu faktor yang berdampak terhadap meningkatnya kasus ISPA di Sumsel.
Sementara sepanjang Januari-Agustus 2026, ISPA di Sumsel tercatat sebanyak 348.708 kasus. Angka tertinggi tercatat pada Januari 50.651 kasus dan Februari 51.115 kasus.
Dari jumlah delapan bulan itu, terbanyak tercatat di Palembang dengan 113.883 kasus, Muara Enim 39.692 kasus, Musi Banyuasin 25.174 kasus, Banyuasin 19.728 kasus, Lahat 17.707 kasus, dan Mura 17.458 kasus.
"Masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi udara dan menjaga kesehatan di tengah paparan asap. Tetap menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, memperbanyak minum air putih, mengurangi aktivitas di luar rumah, disiplin berperilaku hidup bersih dan sehat, dan segera ke fasilitas layanan kesehatan jika mengalami kesulitan bernapas," ungkapnya.
