Ponpes di Sumsel Bakal Jadi Pemasok Bahan Pangan untuk MBG

Sumatera Selatan

Ponpes di Sumsel Bakal Jadi Pemasok Bahan Pangan untuk MBG

Welly Jasrial Tanjung - detikSumbagsel
Senin, 28 Sep 2026 22:20 WIB
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kebagusan II, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kembali beroperasi menyalurkan Makan Bergizi Gratis (MBG) kepada penerima manfaat, Kamis (10/9/2026).
Foto: Ilustrasi Program MBG (Rifki Afifan Pridiasto)
Palembang -

Pesantren di Sumatera Selatan (Sumsel) diwacanakan menjadi salah satu pemasok bahan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pesantren akan didorong tak hanya memenuhi kebutuhan pangan sendiri, tetapi juga memproduksi komoditas untuk diserap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Gagasan tersebut menjadi bagian dari pengembangan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) melalui program GSMP Goes to Pesantren.

Kepala Bank Indonesia Sumsel Bambang Pramono mengatakan pesantren memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produsen pangan karena memiliki sumber daya manusia dan lahan yang dapat dimanfaatkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pesantren jadi salah satu langkah strategis untuk mendorong ekosistem produsen pangan," kata Bambang, Senin (28/9/2026).

Bambang mengatakan pesantren nantinya dapat diarahkan menghasilkan berbagai komoditas sesuai potensi masing-masing. Hasil produksi tersebut tidak hanya untuk kebutuhan internal, tetapi juga bisa dipasarkan kepada SPPG maupun pembeli lainnya.

ADVERTISEMENT

"Melalui dukungan pembiayaan, sarana dan prasarana, pelatihan, serta pendampingan, pesantren tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan mandiri, tapi juga menghasilkan komoditas yang dapat dipasok kepada SPPG dan offtaker lain sesuai potensi produksinya," jelasnya.

Menurutnya, pengembangan pesantren sebagai produsen pangan dapat memperkuat rantai pasok bahan pangan di sekitar SPPG. Pada saat yang sama, produksi tersebut diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

"Peningkatan produksi pesantren diharapkan dapat memperkuat ketersediaan pangan, mendukung pengendalian inflasi dari sisi pasokan, serta menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat," ujarnya.

Selain sektor produksi, BI Sumsel juga mendorong digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan akses keuangan di lingkungan pesantren. Langkah tersebut diharapkan dapat mempermudah transaksi dan akses pembiayaan untuk pengembangan usaha.

Sementara itu, Sekda Sumsel Edward Chandra mengatakan penguatan GSMP harus dibangun melalui ekosistem yang berkelanjutan. Menurutnya, program tidak cukup hanya dengan menambah bantuan kepada masyarakat.

"Ada empat langkah utama yang jadi perhatian, yaitu memperkuat tata kelola, memperkuat pendampingan melalui PANDU-GSMP, memperkuat kemitraan SINERGI GSMP serta memperkuat data sasaran," kata Edward.

Dia menilai keberlanjutan GSMP sangat bergantung pada hilirisasi dan kepastian pasar. Karena itu, rantai program harus dibangun mulai dari data, pendampingan, produksi, hilirisasi hingga pemasaran.

"Harapannya, hasil produksi masyarakat tidak berhenti di tingkat produksi, tetapi memiliki kepastian untuk terserap dan memberikan nilai tambah," pungkasnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads