Kabut asap masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan. Sejumlah sekolah pun ada yang menerapkan pembelajaran tatap muka (PTM), dan ada juga yang pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Saal satu sekolah yang menerapkan PJJ yakni SMP Negeri 10 Palembang. Kebijakan itu diambil menyusul kondisi kualitas udara di Kota Palembang yang kembali memburuk akibat kabut asap.
Kepala SMP Negeri 10 Palembang Suparman Sunaryo mengatakan beberapa hari sebelumnya sekolahnya menerapkan PTM. Namun, karena udara yang memburuk akibat kabut asap, pihaknya kembali menerapkan PJJ
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sehubungan dengan kondisi udara saat ini kembali tidak baik karena kabut asap, maka pembelajaran Senin, 28 September 2026 dikembalikan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)," katanya, Senin.
Suparman meminta seluruh siswa tetap mengikuti kegiatan pembelajaran dari rumah sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh masing-masing guru mata pelajaran.
Selain memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung, sekolah juga meminta orang tua dan wali siswa meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak selama PJJ.
"Kami minta orang tua memastikan anak tetap berada di rumah selama pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Siswa juga diimbau tidak keluar rumah apabila tidak memiliki keperluan penting," ungkapnya.
Selain itu, orang tua diminta memastikan anak benar-benar mengikuti pembelajaran yang diberikan guru. Siswa diwajibkan mengerjakan tugas sesuai mata pelajaran dan jadwal pembelajaran yang telah ditentukan.
Kehadiran siswa selama PJJ juga tetap harus diperhatikan. Orang tua diminta membantu memastikan anak melakukan absensi sehingga pihak sekolah dapat memantau kehadiran siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
Suparman berharap kerja sama antara sekolah dan orang tua dapat berjalan dengan baik selama kondisi kabut asap masih berlangsung.
"Kami berharap kerja sama orang tua wali dapat membantu menjaga keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan pembelajaran siswa selama kondisi kabut asap," ujarnya.
Sementara itu, SD Negeri 114 Palembang menerapkan PTM. Wali kelas enam SD N 114 Palembang Desi Maryani mengatakan kegiatan belajar mengajar dimulai pukul 08.00 WIB hingga 12.30 WIB.
"Tidak ada jam istirahat karena takut anak-anak main ke lapangan dan untuk pembelajaran di lapangan seperti olahraga ditiadakan. Jadi semua aktivitas di dalam kelas," katanya saat ditemui detikSumbagsel, Senin.
Selain itu, siswa hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun bekal yang dibawa dari rumah.
"Kantin tidak dibuka, takut anak-anak nanti membeli es dan makan-makanan yang tidak sehat," ujarnya.
Sebelum melakukan pembelajaran tatap muka, pihak sekolah melakukan polling dan rapat bersama wali murid untuk mencari kesepakatan sistem belajar para siswa.
"Kami waktu itu pernah menjalankan PJJ sesuai imbauan wali kota, selama PJJ itu ada kendala di orang tua karena banyak yang bekerja," katanya.
Hal senada disampaikan Wakil Kesiswaan dari SMP Karya Ibu Palembang Sulasmi yang mengatakan bahwa sekolahnya juga menerapkan PTM.
Sulasmi mengatakan keputusan ini diambil karena berdasarkan polling yang diadakan pihaknya bersama wali murid.
"Untuk tatap mukanya di SMP hari ini mulainya. PJJ kemarin kurang lebih tiga minggu. Sebelum itu kami sudah mengadakan polling, diajukan di grup-grup kelas. Kemudian alhamdulillah 80% itu orang tua dan anak-anak menginginkan untuk tatap muka," katanya.
Kata Sulasmi, sesuai dengan dengan edaran bahwa masuknya pukul 08.00 WIB. Kemudian untuk pembelajaran itu satu jamnya dikurangi 30 menit.
"Awalnya 40 yang normal ya, tapi untuk musim kabut ini menjadi 30 menit per jamnya. Biasanya jam setengah tiga untuk pulang dan ini setengah dua," ujarnya.
"Tapi lihat kondisi kalau misalnya agak siang itu kabutnya mungkin makin tebal, kami inisiatif mungkin anak lebih cepat dipulangkan," ujarnya.
Dia berharap masalah kabut asap yang terjadi di Palembang ini segera berakhir dan semua sekolah bisa menerapkan PTM.
"Harapan saya semoga saja kabut asap ini segera berakhir, dan orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu benar-benar menyadari apa yang dilakukannya itu menimbulkan dampak yang sangat tidak baik bagi seluruh masyarakat, khususnya kita Palembang," ujarnya.
Sementara itu, wali murid SD Negeri 114 Palembang, Jepri Siswanto mendukung kebijakan sekolah untuk tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Menurutnya, kegiatan belajar di sekolah lebih efektif dibandingkan pembelajaran daring dari rumah.
"Memang harus ke sekolah atau tatap muka, kalau di rumah (daring) repot terutama ibunya, dan alhamdulillah aman anak saya tetap menggunakan masker," ungkapnya.
