14 Zona Megathrust di Indonesia: Peta Sebaran, Potensi Magnitudo-Mitigasi

14 Zona Megathrust di Indonesia: Peta Sebaran, Potensi Magnitudo-Mitigasi

Melati Putri Arsika - detikSumbagsel
Senin, 28 Sep 2026 23:00 WIB
Peta Zona Megathrust di Indonesia
Ilustrasi peta sebaran Megathrust. (Foto: Dok. BMKG)
Palembang -

Zona megathrust merupakan wilayah sumber gempa di zona subduksi tempat dua lempeng tektonik bertemu dan saling menunjam pada kedalaman dangkal, umumnya kurang dari 50 kilometer. Jalur patahan ini dapat mengumpulkan energi tektonik secara berangsur hingga mencapai batas maksimum sebelum melepaskan energi besar yang memicu gempa bumi kuat berpotensi tsunami.

Simulasi terjadinya gempa megathrust berlangsung melalui siklus alamiah: Lempeng bergerak-> terkunci->Energi terakumulasi->Energi dilepaskan->Gempa bumi kuat.

Mengapa BMKG Memberikan Imbauan Kewaspadaan Megathrust?

Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia yang membentuk berbagai zona subduksi raksasa. Secara teknis geologi, Indonesia memiliki 14 segmentasi sumber gempa megathrust dengan potensi magnitudo maksimum berkisar antara M 7,8 hingga M 9,2.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi gempa megathrust bukanlah bentuk prediksi bahwa bencana akan terjadi dalam waktu dekat, melainkan bentuk edukasi publik untuk membangun budaya siaga bencana.

"Megathrust bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipahami dan diantisipasi. Karena gempa tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, kesiapsiagaan harus dimulai sebelum gempa terjadi," tegas BMKG melalui penyataan resminya.

ADVERTISEMENT

Sebaran 14 Zona Megathrust di Indonesia

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia terbaru yang dirilis oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen), terdapat 14 segmen zona megathrust yang membentang dari barat Sumatra, selatan Jawa, hingga wilayah timur Indonesia dan perbatasan negara tetangga. Berikut rincian 14 zona megathrust beserta perkiraan potensi magnitudo maksimumnya:

  • Megathrust Aceh-Andaman: M9,22.
  • Megathrust Nias-Simeulue: M8,73.
  • Megathrust Batu: M 7,84.
  • Megathrust Mentawai-Siberut: M8,95.
  • Megathrust Mentawai-Pagai: M8,96.
  • Megathrust Enggano: M8,97.
  • Megathrust Jawa: M9,18.
  • Megathrust Jawa Bagian Barat: M8,99.
  • Megathrust Jawa Bagian Timur: M8,910.
  • Megathrust Sumba: M 8,911.
  • Megathrust Sulawesi Utara: M8,512.
  • Megathrust Palung Cotabato: M8,313.
  • Megathrust Filipina Selatan: M8,214. Megathrust Filipina Tengah: M8,1

Skenario terburuk pada pergerakan Megathrust Aceh-Andaman (M9,2) dapat memicu potensi tinggi gelombang tsunami di garis pantai barat Sumatra lebih dari 3 meter, bahkan melampaui 10 meter di lokasi tertentu.

Intensitas guncangan gempanya diprakirakan mencapai skala VII MMI (Modified Mercalli Intensity), di mana guncangan dirasakan oleh seluruh penduduk hingga berisiko menimbulkan kerusakan fisik pada struktur bangunan.

Tiga Pilar Utama Mitigasi Gempa dan Tsunami

BMKG menekankan pentingnya tiga langkah kesiapsiagaan terstruktur untuk mengurangi risiko bahaya saat terjadi gempa bumi megathrust:

1. Konstruksi Tahan Gempa

Pembangunan rumah dan gedung publik yang menerapkan standar teknis tahan gempa dan tsunami guna meminimalkan risiko bahaya kerusakan fisik.

2. Edukasi dan Literasi Publik

Pemahaman masyarakat terkait peta jalur evakuasi, lokasi titik kumpul aman, serta penyediaan Tas Siaga Bencana (TSB) mandiri.

3. Pemberdayaan Masyarakat (Tsunami Ready Community)

Pembentukan komunitas lokal pesisir yang tangguh dan siap merespons peringatan dini tsunami secara mandiri.

Panduan Kesiapsiagaan Sebelum dan Saat Terjadi Gempa

Penerapan langkah penyelamatan diri yang tepat dapat menekan jumlah korban jiwa saat gempa besar melanda wilayah detikers.

1. Sebelum Terjadi Gempa Megathrust

Siapkan Tas Siaga Bencana berisi air minum, makanan tahan lama, kotak P3K, dokumen penting, senter, peluit, dan pengisi daya portabel.Kenali rute evakuasi dan titik kumpul aman, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai.

Lakukan simulasi evakuasi mandiri secara berkala bersama keluarga. Pastikan struktur bangunan rumah memenuhi standar keselamatan gempa. Hanya memantau saluran informasi resmi BMKG, BNPB, dan BPBD setempat.

2. Saat Terjadi Gempa Bumi

  • Merunduk (Drop): Jatuhkan posisi tubuh ke tangan dan lutut (merangkak) agar tidak runtuh atau terlempar akibat guncangan.
  • Berlindung (Cover): Lindungi kepala dan leher di bawah meja yang kokoh. Jika tidak ada meja, lindungi kepala menggunakan kedua lengan.
  • Bertahan (Hold On): Pegang erat kaki meja tempat berlindung hingga guncangan gempa benar-benar berhenti secara menyeluruh.

Langkah Antisipasi Jika Terjadi Tsunami

Apabila gempa bersumber dari laut dan berpotensi memicu gelombang tsunami, pembaca detikers dapat menerapkan formula "3 Tanggap Tsunami" berikut:

  1. Tanggap Gempa: Waspadai jika guncangan gempa terasa kuat atau berlangsung terus-menerus selama lebih dari 30 detik. Segera menjauh dari pantai dan tepi sungai tanpa menunggu arahan.
  2. Tanggap Peringatan: Pantau pembaruan status peringatan dini tsunami dari BMKG melalui radio, siaran TV, atau pengumuman sirine di sekitar lokasi Anda.
  3. Tanggap Evakuasi: Begitu menerima sinyal evakuasi atau merasakan indikasi awal tsunami, segera berlari menuju tempat tinggi atau gedung evakuasi sementara (shelter) yang aman.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "BMKG Jelaskan Terjadinya Megathrust yang Menyebabkan Tsunami"
[Gambas:Video 20detik] (mep/mep)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads